Memahami Konteks Sapi Kurban Presiden

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN – Publik sekarang sedang dihebohkan masalah sapi kurban Presiden. Padahal setiap Idul Adha, Istana hampir selalu menghadirkan satu pemandangan yang sama. Sapi-sapi berbobot jumbo dikirim ke masjid Istiqlal dan berbagai daerah atas nama Presiden Republik Indonesia. 

img_title Rektor UIN Banten Pastikan Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Diusut Tuntas dan Pelaku Terancam Sanksi Berat

 

Tak dipungkiri banyak di antara kita yang awam di balik tradisi itu. Khususnya dalam konteks perubahan besar tentang bagaimana negara memaknai kurban—dari ibadah personal seorang kepala negara menjadi program bantuan berskala nasional yang dibiayai negara.

img_title UIN Banten Gandeng Kemendes, Ajak Bangun Desa Tematik, Siap Cetak Desa Unggulan Berdaya Saing Global

 

Pada masa Presiden Soeharto, kurban presiden identik dengan kemurahan pribadi penguasa. Sejak 1974, Soeharto rutin menyerahkan sapi kurban melalui pengurus Masjid Istiqlal, Jakarta. Hewan-hewan itu kemudian disalurkan kepada masyarakat. Publik ketika itu memahami bahwa kurban tersebut berasal dari kantong pribadi presiden dan keluarganya, bukan dari kas negara.

img_title UIN SMH Banten Jadi Tuan Rumah Penandatanganan MoU HAM Perguruan Tinggi Se-Banten

 

Jejak sejarah itu sulit dilepaskan dari Peternakan Tapos di Jawa Barat, sebuah kawasan yang pernah menjadi simbol ambisi modernisasi peternakan Indonesia sekaligus representasi ruang privat keluarga Cendana. Tapos mulanya merupakan bekas perkebunan N.V. Cultuur Maatschappij Pondok Gedeh yang dinasionalisasi pemerintah pada 1957 dan dikelola Perusahaan Negara Perkebunan XI. Namun, pada 1973, hak guna usaha kawasan itu dialihkan kepada PT Rejo Sari Bumi (RSB), perusahaan yang dipimpin putra kedua Soeharto, Sigit Harjojudanto.

 

Di atas ribuan hektar lahan itulah dibangun peternakan modern dengan teknologi yang terbilang maju pada zamannya. Tapos memiliki fasilitas persilangan ternak lokal dengan bibit unggul, hamparan jagung dan rumput pakan, hingga sistem pengolahan makanan ternak yang tertata modern. Pada 1985, Soeharto menyebut Tapos sebagai pusat riset peternakan nasional dan model peternakan masa depan Indonesia. Untuk membuktikan hal itu pada lebaran Idul Adha 1984, Presiden Soeharta mengirimkan sapi-sapi kurban lebih banyak daripada tahun sebelumnya. 

 

Ketika sapi-sapi kurban Soeharto dikirim ke Masjid Istiqlal, publik melihatnya sebagai ekspresi kesalehan personal seorang presiden yang kebetulan memiliki peternakan besar.

 

Tradisi tersebut mengalami perubahan penting pada era Presiden Joko Widodo. Pada 2019, Jokowi merintis skema “kurban bantuan Presiden”, sebuah program yang tidak lagi bertumpu pada kepemilikan pribadi presiden, melainkan menggunakan mekanisme negara. Pemerintah membeli sapi dari peternak lokal di berbagai daerah untuk kemudian didistribusikan ke seluruh provinsi.

Halaman Selanjutnya
img_title