Logika di Balik Birahi
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Maraknya kasus kekerasan seksual, penyimpangan seksual, dan hubungan seks di luar nikah yang terjadi di tengah masyarakat mengajak kita untuk melakukan introspeksi: Apa rahasia manusia diberikan birahi oleh Tuhan? Apa birahi murni nafsu? Atau sebaliknya ada logika di balik birahi?
Kita selama ini memahami birahi sering dikaitkan dengan nafsu semata. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini bahkan kerap dipahami sebagai dorongan yang negatif dan harus dijauhi. Padahal, di balik birahi terdapat pembelajaran tentang logika kehidupan manusia. Birahi bukan sekadar gejolak biologis, melainkan bagian dari fitrah yang memiliki tujuan dan hikmah.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika Allah SWT memberikan birahi kepada manusia, ada dua hal besar yang diharapkan. Pertama, kenikmatan birahi yang dirasakan manusia menjadi gambaran kecil agar manusia dapat mengqiyaskan betapa luar biasanya kenikmatan surga. Kedua, manusia diberikan birahi agar kehidupan manusia dapat terus berlangsung melalui keturunan dari generasi ke generasi.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Islam memandang birahi secara rasional dan proporsional. Sesuatu yang diciptakan Allah SWT tentu tidak hadir tanpa tujuan. Logika pertama yang dapat dipahami adalah bahwa manusia membutuhkan pengalaman konkret untuk memahami sesuatu yang abstrak.
Surga merupakan kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan secara utuh oleh akal manusia. Oleh karena itu, manusia diberi sedikit rasa nikmat di dunia, termasuk kenikmatan birahi, agar manusia memiliki gambaran tentang kebahagiaan yang lebih besar di akhirat. Dengan kata lain, birahi bukan hanya persoalan tubuh, tetapi juga sarana pembelajaran spiritual.
Selain itu, logika kedua berkaitan dengan keberlangsungan hidup manusia. Tanpa adanya ketertarikan antara laki-laki dan perempuan, manusia mungkin tidak memiliki dorongan kuat untuk membangun keluarga dan melahirkan keturunan. Birahi menjadi mekanisme alami yang menjaga kelestarian manusia di bumi. Dari sini tampak bahwa birahi memiliki fungsi sosial dan biologis yang sangat penting. Kehidupan manusia tidak akan berjalan secara turun-temurun tanpa adanya dorongan tersebut.
Namun, karena birahi adalah kekuatan besar dalam diri manusia, maka ia juga membutuhkan kendali. Logika tanpa moral akan melahirkan kerusakan, sedangkan birahi tanpa akal dapat menyeret manusia pada perilaku yang merugikan.