"Toxic Talk" dan Normalisasi Kekerasan Seksual Verbal

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Facebook/Kang Ishom

VIVA BANTEN – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Media sosial menghadirkan ruang tanpa batas yang memungkinkan setiap orang berbicara, berkomentar, dan mengekspresikan pendapat secara bebas. Namun, di tengah derasnya arus komunikasi itu, muncul persoalan serius yang kerap luput dari perhatian: maraknya "toxic talk" yang berujung pada kekerasan seksual verbal.

img_title UIN SMH Banten Cetak Sejarah, 5 Guru Besar Baru Dikukuhkan, Siap Jadi Motor Kemajuan Banten

 

Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang kekerasan hanya dalam bentuk fisik. Padahal, ucapan yang merendahkan, melecehkan, atau mengandung muatan seksual juga merupakan bentuk kekerasan yang dapat melukai psikologis seseorang. Kalimat bernada “bercanda”, komentar tentang tubuh, siulan di ruang publik, hingga pesan vulgar di media sosial sering dianggap wajar dan lumrah. Ironisnya, banyak pelaku berlindung di balik alasan candaan untuk menghindari tanggung jawab moral atas ucapan mereka.

img_title Kenapa Ibnu Muljam Tak Dimaafkan Sejarah?

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memahami batas antara humor dan pelecehan. "Toxic talk" tumbuh subur dalam budaya komunikasi yang permisif terhadap ujaran kasar dan seksis. Di lingkungan pertemanan, komentar bernuansa seksual kerap dijadikan simbol keakraban. Di sekolah dan kampus, ejekan terhadap fisik maupun tubuh perempuan sering dianggap bagian dari dinamika sosial remaja. Sementara di media sosial, kata-kata vulgar dengan mudah dilemparkan kepada siapa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya.

img_title Cetak Instruktur Junior Berkompeten, UIN Banten Gandeng BBPVP Serang Siapkan SDM Unggul Hadapi Dunia Kerja

 

Padahal, kekerasan seksual verbal meninggalkan dampak yang nyata. Korban dapat mengalami rasa malu, cemas, kehilangan rasa aman, hingga penurunan kepercayaan diri. Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan relasi sosial seseorang. Tidak sedikit korban memilih diam karena takut disalahkan atau dianggap terlalu sensitif. Budaya "victim blaming" membuat korban semakin enggan berbicara, sementara pelaku merasa tindakannya dapat diterima.

 

Islam sejatinya telah memberikan tuntunan yang jelas tentang pentingnya menjaga lisan dan menghormati martabat manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

 

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.”

(QS. Al-Isra: 53)

 

Ayat ini menegaskan bahwa ucapan bukan sekadar bunyi, melainkan cerminan akhlak dan keimanan seseorang. Perkataan yang buruk dapat memicu permusuhan, kebencian, bahkan melukai batin orang lain.

Halaman Selanjutnya
img_title