"Toxic Talk" dan Normalisasi Kekerasan Seksual Verbal
- Facebook/Kang Ishom
Masyarakat juga perlu berhenti menormalisasi candaan seksual yang merendahkan. Diam terhadap "toxic talk" sama artinya memberi ruang bagi kekerasan untuk terus berlangsung. Ruang digital seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan secara sehat, bukan arena pelecehan yang melukai sesama.
Kita penting memahami bahwa, kata-kata bukan sekadar rangkaian bunyi. Ia dapat menjadi jembatan empati, tetapi juga bisa berubah menjadi senjata yang melukai. Di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital, kemampuan menjaga etika komunikasi menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, peradaban yang sehat tidak hanya diukur dari kemajuan teknologinya, melainkan juga dari cara manusianya menghormati sesama.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.