Terasa Muktamar NU "Pulang ke Rumah"
- Taufik Hidayat/VIVA Banten
VIVA BANTEN – Setiap muktamar Nahdlatul Ulama selalu memiliki suasana sendiri. Khususnya Muktamar NU di Jombang kali ini memberi kesan yang berbeda. Bagi saya, NU seperti sedang pulang ke rumahnya sendiri. Hal ini penting ditegaskan karena tidak setiap muktamar NU yang pembukaannya berlangsung di pesantren menjadikan seluruh rangkaian kegiatannya berada di lingkungan pesantren.
Dalam beberapa muktamar sebelumnya, pembukaan memang digelar di pondok pesantren, tetapi rapat, persidangan, penginapan, dan berbagai aktivitas peserta berlangsung di tempat lain. Muktamirin harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Di Jombang, hampir seluruh denyut muktamar berada di lingkungan pesantren. Tenda-tenda persidangan berdiri di antara bangunan pondok. Jalan-jalan pesantren menjadi jalur lalu-lalang muktamirin maupun pengunjung yang menempati rumah-rumah warga sekitar pondok yang sengaja disewakan.
Sejak pagi, kawasan pesantren seperti sebuah kota kecil yang sedang bergerak. Kiai, pengurus NU, muktamirin, santri, relawan, wartawan, pedagang, tamu, dan pengunjung berbaur. Ada yang bergegas menuju persidangan, mencari ruang komisi, bertemu kawan lama, atau sekadar duduk berbincang di pinggir jalan.
Yang menarik, suasana cair itu tidak berarti tanpa aturan. Justru sistem pengamanan dan akses kali ini terasa lebih tertib. Peserta diwajibkan mengenakan ID card yang terintegrasi dengan sistem. Akses ke ruang-ruang tertentu tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Namun, pengetatan tersebut tidak membuat suasana menjadi kaku. Muktamirin dan pengunjung—atau, meminjam istilah yang akrab, Romli dan Romlah—tetap bisa menikmati keramaian dengan santai. Mereka berjalan, bercengkerama, bertemu teman, makan, minum, dan menyaksikan kesibukan muktamar dari dekat.
Salah satu pemandangan yang menarik terlihat di pintu masuk tenda-tenda ruang komisi. Akses dijaga para santri yang mendapat tugas dari seksi keamanan pondok: Di samping tentu saja ada Banser, dan aparat keamanan.
Mereka masih muda, tetapi berdiri dengan sikap tegas sekaligus sopan. Mereka menyapa, mengarahkan, dan terKadang menyampaikan pertanyaan sederhana, “ID card-nya, Gus?”
Pengunjung yang memang tidak memiliki akses biasanya langsung memahami maksudnya. Bahkan ada rasa sungkan untuk memaksa masuk. Barangkali karena yang berdiri di hadapan mereka bukan sekadar petugas keamanan, melainkan santri yang sedang menjalankan amanah pondok.