Terasa Muktamar NU "Pulang ke Rumah"

Muktamirin Warga NU di Jombang
Sumber :
  • Taufik Hidayat/VIVA Banten

Di sinilah kultur pesantren bekerja dengan cara yang menarik. Ketertiban tidak hanya ditegakkan melalui aturan, tetapi juga melalui rasa sungkan. Orang mungkin bisa berdebat dengan petugas keamanan. Tetapi rasanya tidak elok memaksa seorang santri yang sedang menjalankan tugas. Akibatnya, sistem keamanan tetap berjalan tanpa harus mengubah wajah muktamar menjadi tegang.

img_title Yenny Wahid Tegaskan Persatuan Lebih Penting dari Perebutan Kursi Ketum PBNU, Muktamar NU Diminta Hindari Perpecahan

Pengalaman semacam ini membuat saya melihat perbedaan yang cukup mendasar dengan muktamar yang sepenuhnya berlangsung di hotel atau gedung pertemuan. 

Di tempat seperti itu, batas antara ruang persidangan dan ruang kehidupan sehari-hari biasanya lebih jelas. Orang datang untuk mengikuti agenda, masuk ruang sidang, menyelesaikan urusan, kemudian kembali ke kamar atau meninggalkan gedung.

img_title 52 Pendekar Pagar Nusa Jateng Siaga Kawal Muktamar NU, Gus Arief: Netral dan Fokus Sukseskan Hajatan Nahdliyin

Percakapan tentang NU bisa berlanjut di serambi masjid. Perdebatan organisasi berpindah ke warung. Pertemuan yang semula tidak direncanakan terjadi begitu saja di jalan pesantren. Seorang kiai bertemu santri. Muktamirin bertemu kawan lama. Pengunjung yang semula hanya ingin melihat keramaian akhirnya ikut larut dalam suasana.

Di tengah pembicaraan tentang kepemimpinan, organisasi, perbedaan pandangan, dan masa depan NU, kehidupan pesantren tetap hadir sebagai latar yang kuat. Santri tetap beraktivitas. Masjid tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Tradisi keilmuan dan penghormatan kepada kiai terasa bukan sebagai slogan, melainkan sebagai bagian dari suasana. Seolah-olah pesantren terus mengingatkan bahwa NU mempunyai akar.

img_title Muktamar NU Diterpa Peringatan Keras, Aliansi Santri Gus Dur Tolak Politik Uang, Serukan Jaga Marwah Organisasi

Karena itu, bagi saya, keistimewaan Muktamar Jombang bukan hanya apa yang terjadi di dalam ruang sidang. Ada pengalaman sosial yang berlangsung di luarnya: cara orang bertemu, cara aturan dijalankan, cara santri menjaga ruang muktamar, dan cara ribuan orang berbagi tempat dalam suasana yang tetap akrab.

Hal-hal semacam itu mungkin tidak tercatat dalam laporan resmi. Jumlah peserta bisa dihitung. Sidang bisa dijadwalkan. Fasilitas bisa dievaluasi. Sistem keamanan bisa diukur tapi suasana tidak mudah dihitung.

Suasana itulah yang membuat Muktamar NU di Jombang terasa berbeda. Di sini, NU bukan sekadar mengadakan muktamar di sebuah pesantren. NU seperti kembali ke ruang yang ikut membentuk tradisi dan wataknya.

Halaman Selanjutnya
img_title