Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN – Pernyataan seorang wakil rakyat yang merendahkan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memunculkan keprihatinan di tengah masyarakat akademik. Di ruang publik, kritik merupakan hal yang lumrah. Namun, ketika kritik berubah menjadi generalisasi yang merendahkan sebuah komunitas akademik, persoalannya tidak lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan menyangkut penghormatan terhadap dunia pendidikan dan kesetaraan kesempatan bagi setiap mahasiswa.

img_title UIN Banten Cetak 4 Guru Besar Baru, Siap Dongkrak Mutu Pendidikan dan Perkuat Dunia Akademik

 

PTKIN merupakan bagian integral dari sistem pendidikan tinggi nasional. Kehadirannya tidak hanya berperan mencetak sarjana di bidang keislaman, tetapi juga melahirkan lulusan dari berbagai disiplin ilmu, seperti ekonomi, hukum, sains, teknologi, kesehatan, hingga ilmu sosial. Dalam beberapa dekade terakhir, transformasi PTKIN menunjukkan bahwa kampus-kampus ini terus berkembang menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang kompetitif.

img_title Kabar Baik, Santri MA Al-Fathaniyah Kota Serang Lolos Kuliah, Ada yang Tembus Kedokteran dan Raih Beasiswa KIP

 

Prestasi mahasiswa dan dosen PTKIN juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Berbagai kompetisi ilmiah, riset internasional, inovasi teknologi, hingga pengabdian masyarakat telah menunjukkan bahwa kualitas akademik tidak ditentukan oleh label institusi semata. Banyak alumni PTKIN yang berkiprah sebagai akademisi, birokrat, hakim, diplomat, pengusaha, jurnalis, maupun tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

img_title Seminar Nasional Menuju IGIC 2026, Prof Ishom: Serukan Masjid Jadi Pusat Diplomasi Dunia demi Wujudkan Perdamaian Global

 

Oleh karena itu, pernyataan yang merendahkan mahasiswa PTKIN lebih mencerminkan prasangka daripada penilaian yang berbasis fakta. Prasangka lahir ketika seseorang menyimpulkan sesuatu tanpa memahami realitas secara utuh. Dalam konteks pendidikan, prasangka seperti ini berbahaya karena dapat memperkuat stereotip dan menghambat terciptanya ekosistem akademik yang sehat, inklusif, dan saling menghargai.

 

Sebagai wakil rakyat, setiap pejabat publik memiliki tanggung jawab moral untuk membangun optimisme generasi muda, bukan justru meruntuhkan kepercayaan diri mereka. Mahasiswa, dari kampus mana pun, adalah aset bangsa yang sedang mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh melalui apresiasi, kritik yang membangun, dan kesempatan yang setara, bukan stigma yang mendiskreditkan identitas akademiknya.

 

Pendidikan tinggi pada hakikatnya bukanlah arena untuk membandingkan siapa yang lebih unggul berdasarkan asal perguruan tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap institusi mampu menghasilkan lulusan yang berintegritas, kompeten, berpikir kritis, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dalam konteks ini, PTKIN telah menunjukkan komitmennya melalui berbagai inovasi kurikulum, peningkatan kualitas riset, dan penguatan kolaborasi dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Halaman Selanjutnya
img_title