Krakatau: Menggugah Kesadaran Kita Semua
- Aplikasi Magma Indonesia.
VIVA BANTEN – Tulisan ini bertujuan membangunkan kembali ingatan masyarakat tentang bahaya letusan gunung Krakatau. Dalam tragedi meletusnya gunung Krakatau tahun 1883 tercatat menewaskan korban manusia sebanyak 36.147 jiwa. Jumlah yang sangat besar sebab jumlah penduduk waktu itu tidak sepadat jumlah penduduk jaman sekarang.
Gunung Krakatau dalam peta yang dibuat H.J.G Gerzenaar tahun 1883 terletak di dalam gugusan kepulauan paling besar yang dulunya disebut masyarakat dengan nama pulau Rakata.
Gunung Krakatau meletus dahsyat berbarengan dengan peristiwa upacara khitanan Hassan, putra R. Natanegara, adik bungsu bupati pada hari Sabtu tanggal 25 Agustus 1883. Pesta meriah itu dihadiri para kerabat, pejabat, pegawai, dan yang menarik adalah petani menyumbang bagi suksesnya pesta yang meriah tersebut.
Alunan gamelan munggang menyambut tamu-tamu penting yang tiba hingga malam. Mereka merupakan keluarga bupati dari Lebak, Serang, Tangerang, Jasinga, Bogor, dan Cianjur. Tidak ketinggalan penguasa Belanda dari Serang turut pula menghadiri pesta. Bahkan pada hari Minggu tanggal 26 Agustus masih banyak tamu yang berdatangan, khususnya kerabat bupati dan penguasa Belanda.
Keyakinan masyarakat saat itu, banyak yang mengaitkan pesta meriah keluarga bupati di jaman itu dengan letusan Krakatau. Pada sore hari Minggu, gunung yang terletak di selat Sunda itu meletus dengan suara terdengar dahsyat dan gelombang pasang menerjang daratan pantai. Tidak ada lagi kemeriahan pesta. Pengantin, Hasan kecil, kerabat, dan tamu yang hadir tewas. Tidak ada yang selamat.
Dalam kepercayaan masyarakat, seperti disebutkan dalam kakawihan, menyelenggarakan pesta pernikahan sekaligus upacara khitanan merupakan praktik yang melanggar ketentuan adat. Oleh karena itu, harus dilakukan labuhan untuk membersihkannya.
Para pejabat yang menjadi bawahan bupati menyadari pelanggaran adat tersebut. Beberapa wedana dan asisten wedana berangkat ke Caringin untuk seba. Laporan Haji Abdul, penghulu distrik Panimbang, menyebut pejabat yang melakukan "seba" ke Banten adalah wedana Panimbang, 3 asisten wedana distrik Panimbang, asisten wedana Carita, dan seorang dari Cibaliung.
Haji Abdul sendiri selamat dari bencana, karena pada saat itu ia melakukan kunjungan ke wilayah pedalaman. Para pejabat yang melakukan seba turut hanyut dalam gelombang besar yang melanda kawasan pesisir Banten (Abdurachman, 1983).