Haji Sentilun: Besek Kenduri Tak Pernah Salah Sasaran

Prof Dr KH Muhammad Ishom
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN – Semalam, Pak RT menggelar kenduri yang, menurut ukuran kampung, sudah lebih dari cukup untuk disebut khidmat. Undangan disebar rapi, doa dipersiapkan matang, dan berkat ditata dengan penuh harap dalam besek bambu. Semua berjalan sesuai pakem: sederhana, tertib, dan sarat niat baik. Kenduri, seperti biasa, dimaksudkan sebagai penanda kebersamaan dan harapan akan keberkahan yang bisa dibagi rata.

img_title Krakatau: Menggugah Kesadaran Kita Semua

 

Hanya saja, tradisi hampir selalu punya jarak dengan realitas. Dari sekian warga yang diundang, sebagian memilih tak menampakkan diri. Alasannya tak pernah benar-benar jelas. Bisa karena sibuk, bisa karena lupa, atau mungkin karena merasa kehadirannya tak terlalu berpengaruh pada langit yang akan mengamini doa.

img_title Terasa Muktamar NU "Pulang ke Rumah"

 

Pak RT, yang sudah lama kenyang pengalaman menghadapi dinamika warganya, memilih tak larut dalam kekecewaan. Baginya, berkat yang disiapkan dengan doa tak pantas berakhir basi. Ia pun mengambil keputusan praktis: berkat yang tersisa dibagikan kepada warga yang tak sempat hadir. Amanat itu disampaikan singkat, tanpa catatan teknis yang terlalu rinci.

img_title Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

 

Masalahnya, waktu sudah jauh malam. Rumah-rumah gelap, pintu tertutup rapat, dan sebagian warga mungkin sudah terlelap dalam tidur yang tak ingin diganggu urusan kenduri. Membagikan berkat satu per satu terdengar ideal, tetapi berpotensi menimbulkan keributan baru. Tidak semua orang senang dibangunkan atas nama kebaikan.

 

Di situlah sang hansip mulai bernegosiasi dengan akal sehatnya sendiri. Ia memilih berjaga di pos ronda, ditemani kopi pahit dan kesadaran bahwa nasi dalam besek punya batas kesabaran. Waktu, malam, dan cuaca adalah faktor-faktor yang tak tercantum dalam amanat, tetapi nyata di lapangan.

 

Setiap orang yang melintas malam itu pun mendapat bagian. Tak ada pertanyaan asal-usul, tak ada pengecekan domisili, apalagi verifikasi status sosial. Pengendara, pejalan kaki, bahkan ronda dari kampung sebelah diperlakukan setara. Dalam gelap malam, semua orang tampak sama-sama manusia, dan mungkin sama-sama lapar.

 

Bagi sang hansip, amanat Pak RT bukanlah daftar nama, melainkan tujuan. Selama berkat itu dimakan dan tidak berakhir di tempat sampah, kenduri telah menjalankan fungsinya. Ia percaya, niat baik tak selalu membutuhkan jalur distribusi yang sempurna.

Halaman Selanjutnya
img_title