Haji Sentilun: Besek Kenduri Tak Pernah Salah Sasaran
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Menariknya, kebaikan kerap berbalas dengan cara yang tak tercatat dalam laporan resmi. Dari beberapa penerima, ada yang menyelipkan lintingan tembakau. Katanya, sekadar teman begadang. Bukan imbalan, apalagi sogokan—hanya solidaritas kecil yang lahir tanpa rapat dan tanpa berita acara.
Seorang penerima bahkan mengaku membatalkan niat membeli nasi goreng. Malam itu, kebutuhannya terpenuhi tanpa transaksi tambahan. Sebuah efisiensi ekonomi yang tak pernah masuk perhitungan, tetapi nyata dirasakan.
Menjelang subuh, sang hansip pulang dengan hati ringan. Tak ada besek tersisa, tak ada nasi basi, dan tak ada niat yang ia rasa diselewengkan. Ia yakin telah menjalankan amanat sebaik mungkin, sesuai kondisi yang ada, bukan kondisi yang dibayangkan.
Pagi harinya, kampung mendadak riuh. Kabar beredar cepat, lebih cepat dari sisa aroma kenduri. Hansip dituding tak amanah. Berkat, kata sebagian warga, seharusnya hanya dibagikan kepada mereka yang terdaftar sebagai penerima sah, bukan kepada orang-orang yang dianggap “bukan siapa-siapa”.
Penilaian pun datang dari kejauhan, dengan cahaya matahari yang terang tetapi ingatan yang selektif. Jam malam, rumah-rumah gelap, dan ancaman basi perlahan dikesampingkan. Yang dipersoalkan tinggal prosedur, seolah prosedur selalu lebih suci daripada tujuan.
Padahal sejak awal, maksud Pak RT cukup jelas. Berkat harus bermanfaat dan tidak terbuang. Amanat itu berbicara tentang hasil, bukan sekadar rute. Namun seperti biasa, tafsir kerap lebih ramai daripada niat.
Kisah kenduri ini barangkali tak berhenti sebagai cerita kampung. Ia mencerminkan bagaimana kebijakan sering lahir dari niat baik, dijalankan dalam keterbatasan, lalu diadili dengan standar yang muncul belakangan. Keputusan diambil di malam hari, tetapi vonisnya dijatuhkan di pagi yang nyaman.
Maka mungkin yang perlu direnungkan bukan siapa menerima berkat, melainkan apakah berkat itu benar-benar memberi manfaat. Sebab dalam urusan bersama, seperti kenduri semalam, yang paling cepat basi bukanlah nasi di dalam besek, melainkan prasangka yang enggan memahami konteks.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.