Dinobatkan sebagai Negeri Paling Bahagia: Ini Rahasianya!

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN Indonesia dinobatkan sebagai negeri paling bahagia di penghujung tahun 2025. Kabar ini bukan datang dari ajang penghargaan seremonial, melainkan dari hasil riset ilmiah berskala global yang melibatkan sejumlah universitas ternama dunia. Temuan tersebut berasal dari Global Flourishing Study (GFS), yang turut melibatkan Universitas Harvard.

img_title Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Lembaga ini menempatkan Indonesia di peringkat teratas dalam daftar negara dengan tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan tertinggi di dunia. Peringkat ini bahkan mengungguli Amerika Serikat, Jepang, dan Swedia—negara-negara yang kerap dijadikan tolok ukur kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Global Flourishing Study merupakan hasil kerja sama antara Harvard Human Flourishing Program, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science. Studi tersebut melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 23 negara dan wilayah, dilakukan selama periode 2022–2024.

img_title Menag Prof Nasaruddin Dorong Integrasi Keilmuan PTKIN, Tawarkan Teologi Ahadiyah sebagai Fondasi Baru

Berbeda dari survei kebahagiaan pada umumnya, GFS tidak hanya menilai aspek emosional atau kepuasan hidup, tetapi juga dimensi-dimensi lain seperti makna hidup, kualitas hubungan sosial, karakter moral, kesehatan fisik, serta stabilitas ekonomi rumah tangga. Pendekatan multidimensional ini menjadikan hasilnya lebih komprehensif.

Rahasia masyarakat Indonesia paling bahagia sedunia ialah mereka menonjol dalam hal solidaritas sosial, rasa syukur, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan ekonomi. Nilai-nilai seperti gotong royong dan keakraban komunitas dinilai menjadi pilar utama yang menopang kebahagiaan warga.

img_title Haji Sentilun: Besek Kenduri Tak Pernah Salah Sasaran

Beberapa hari lalu, penulis menguji disertasi mahasiswa Pascasarjana UIN SMH Banten tentang "Perempuan Pencari Nafkah di Cilegon, Banten" yang hasilnya kurang lebih sama dengan hasil studi GFS. Di wilayah pesisir ini, sejumlah perempuan bekerja sebagai pengerut kayu gaharu—pekerjaan tradisional yang dilakukan untuk membantu ekonomi keluarga. Meski penghasilan mereka tidak sebesar buruh pabrik industri baja di kawasan yang sama, kehidupan keluarga mereka justru dinilai lebih harmonis.

Dalam studi itu dijelaskan bahwa para perempuan pengerut gaharu mengaku jarang mengalami stres berat. Mereka bekerja di lingkungan yang fleksibel, dekat dengan rumah, dan masih memiliki waktu untuk mendampingi anak. Hasilnya, hubungan keluarga lebih hangat, jarang terjadi pertengkaran atau perceraian, dan kebutuhan anak—baik emosional, spiritual, maupun material—terpenuhi secara seimbang.

Halaman Selanjutnya
img_title