Tips Menjadi Wanita Karir dan Istri Solehah
VivaBanten – Menjadi wanita karir sekaligus istri solehah dirumah merupakan dambaan bagi semuanya. Meski begitu, tidak mudah untuk melakukannya, karena harus pandai membagi waktu, tenaga dan pikiran.
Ditengah kesibukan sebagai wanita karir, baik menjadi dosen, ASN, dokter, maupun pegawai kantoran, banyak pertanyaan muncul. Bisakah menjadi istri solehah? Jawabannya tentu sangat mungkin asalkan dijalani dengan niat yang lurus, adab yang terjaga, dan tetap berpegang teguh pada syariat Islam.
Kemudian apa yang dilakukannya diluar rumah tetap berpegang teguh pada ajaran agama, seperti meminta izin dari suami, tidak hedon hingga berpenampilan yang menggoda lawan jenis.
Belajar dari Sayyidah Khadijah dan Aisyah Sayyidah Khadijah Ra adalah contoh agung perempuan mandiri. Seorang pebisnis sukses, kaya raya, namun tetap menjadi istri yang penuh cinta dan dukungan terhadap Rasulullah Saw.
Begitu pun dengan Sayyidah Aisyah Ra, dia adalah seorang ahli ilmu, cendekia perempuan, rujukan para sahabat, sekaligus istri yang cerdas dan lembut.
Kedua istri Nabi ini membuktikan bahwa peran rumah dan peran publik bukan dua hal yang harus dipertentangkan, tapi bisa saling menguatkan jika dilandasi iman dan adab sehingga bisa menjadi cahaya di rumah sekaligus bermanfaat di masyarakat.
Anda Wanita Karir Atur dan Manajemen Waktu dengan 6 Tips Ini
- -
Berikut Tips Menjadi Wanita Karir dan Istri Solehah yang kami kutip dari NU Online:
1) Mendapat Izin Suami
Izin suami bukan sekadar etika tapi bagian dari syariat. Apapun pekerjaannya, mulailah dengan izin suami, karena rida Allah bergantung pada rida suami dalam hal-hal yang menjadi haknya.
2) Taat pada Suami
Seorang istri solehah adalah perhiasan dunia yang tak tergantikan. Maka, dalam aktivitas apa pun, termasuk bekerja, prioritas utama seorang istri adalah menjaga hubungan dengan suaminya, baik dalam ketaatan, kehormatan, maupun pelayanan lahir dan batin.
3) Bekerja Karena Allah
Bekerja adalah bagian dari ibadah jika niatnya lurus karena Allah dan bisa membawa manfaat. Perempuan yang bekerja untuk menafkahi orang tuanya, membantu suami, membayar pendidikan anak atau membangun ekonomi umat, bisa bernilai ibadah.
4) Menjaga Syariat