Mengapa Di Satu Kecamatan Tak Ada Kantor Bank?

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN – Suatu hari, seorang pimpinan cabang bank datang berkunjung dengan maksud melanjutkan kerja sama. Dalam suasana percakapan yang santai namun serius, muncul cerita sederhana namun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Saat itu, uang tunai di dompet benar-benar habis. Sementara kendaraan pribadi hampir kehabisan bahan bakar. Upaya untuk mencari anjungan ATM atau kantor kas bank terdekat tidak membuahkan hasil. Tidak satu pun fasilitas perbankan ditemukan di sekitar wilayah kecamatan ini.

img_title Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Cerita itu disampaikan dengan nada ringan, namun sesungguhnya mencerminkan kenyataan yang tidak bisa terus dibiarkan. Sebuah kecamatan yang secara administratif aktif dan dihuni oleh cukup banyak penduduk ternyata belum memiliki layanan perbankan yang layak. Tidak ada kantor cabang, tidak ada ATM, bahkan untuk sekadar menarik uang tunai pun harus keluar dari wilayah sendiri.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa dalam satu kecamatan yang tergolong berkembang, fasilitas perbankan tidak juga hadir?

img_title Jangan Cuma Jago Visual, Pelajar DKV Didorong Bantu Digitalisasi Promosi UMKM

Dari sudut pandang lembaga keuangan, keberadaan kantor bank atau mesin ATM ditentukan oleh banyak pertimbangan. Salah satu faktor utama adalah kelayakan bisnis. Jika suatu wilayah dianggap belum memiliki potensi transaksi yang tinggi atau jumlah pengguna layanan yang mencukupi, maka pembukaan kantor akan dinilai tidak efisien. Keputusan seperti ini biasanya didasarkan pada analisis data, termasuk jumlah penduduk, tingkat literasi keuangan, dan intensitas aktivitas ekonomi.

Selain itu, aspek infrastruktur juga sangat menentukan. Keberadaan jaringan internet yang stabil, ketersediaan listrik, kondisi jalan yang baik, serta faktor geografis lainnya menjadi syarat penting bagi operasional layanan perbankan. Tanpa dukungan tersebut, pelayanan akan terhambat dan berisiko tinggi.

img_title Menag Prof Nasaruddin Dorong Integrasi Keilmuan PTKIN, Tawarkan Teologi Ahadiyah sebagai Fondasi Baru

Di beberapa tempat, bank menggandeng mitra lokal seperti agen bank atau penyedia layanan keuangan di toko ritel. Solusi ini memang membantu sebagian kebutuhan dasar masyarakat, namun tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua transaksi bisa dilakukan melalui agen. Dalam situasi tertentu, seperti kebutuhan uang tunai dalam jumlah besar, pencairan kredit, atau layanan yang memerlukan dokumen resmi, keberadaan kantor bank tetap diperlukan.

Halaman Selanjutnya
img_title