Dinobatkan sebagai Negeri Paling Bahagia: Ini Rahasianya!
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Kondisi tersebut kontras dengan sebagian perempuan buruh pabrik di kawasan industri Cilegon. Meski memiliki pendapatan lebih stabil, banyak di antara mereka menghadapi tekanan kerja tinggi, waktu bersama keluarga yang terbatas, serta kelelahan fisik yang berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. Studi kecil ini menunjukkan, keseimbangan waktu dan dukungan sosial memiliki peran penting dalam menentukan tingkat kebahagiaan, bahkan lebih besar dari faktor penghasilan.
Contoh seperti itu mencerminkan pola umum kebahagiaan di Indonesia. Keterikatan sosial dan makna dalam pekerjaan, betapapun sederhana, memberikan kepuasan hidup yang jauh lebih dalam dibandingkan semata-mata pendapatan tinggi. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa masyarakat dengan ikatan komunitas kuat cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah dan kualitas hidup lebih baik.
Lebih dari sekadar angka atau peringkat, predikat negeri paling bahagia menjadi cermin penting bagi Indonesia: bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari seberapa besar seseorang memiliki, tetapi seberapa erat mereka terhubung—dengan keluarga, komunitas, dan makna hidup yang dijalani. Dalam harmoni sosial semacam itu, kebahagiaan bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang tumbuh dari keseharian.
*) Opini ini ditulis oleh Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom el Saha.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.