Krakatau: Menggugah Kesadaran Kita Semua
- Aplikasi Magma Indonesia.
Para ulama di Banten juga menghubungkan letusan Krakatau dengan peristiwa kenduri di atas. Hiburan yang berlangsung di kediaman bupati, seperti tayuban dan kegiatan lain, tidak sesuai ajaran agama Islam sehingga menimbulkan kemurkaan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan menurunkan azab ke bumi karena perilaku para penguasanya (Lapian, 1983).
Untuk mengenang sekaligus mengharap perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat Banten pernah memiliki acara ritual tahunan. Yaitu "Ritual Bencana Haul Kalembak" yang diadakan untuk mengenang peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Secara etimologis, Kalembak berasal dari dua suku kata dalam Bahasa Jawa, "kelem' artinya tenggelam dan "bak' kependekan dari ombak. Jadi kalembak bermakna tenggelam karena ombak (Purnomosidi, 2000).
Kegiatan Haul Kalembak awalnya diselenggarakan oleh keluarga besar K.H. Asnawi Caringin di Masjid Salafiah Caringin. Masjid ini merupakan masjid kuno yang dibangun kembali setelah mengalami kerusakan akibat letusan Krakatau 1883 (Putra, 2019).
Kemudian, masyarakat juga turut menyelenggarakan upacara Haul Kalembak yang digelar di bulan Agustus sampai November bertepatan dengan musim datangnya angin barat yang berhembus kencang.
Prosesi upacara Kalembek diawali dengan meminta nasehat kepada "Juru Baya' yang diyakini memiliki informasi rahasia lautan samudera. Setelah ditentukan hari pelaksanaan upacara Kalembak, masyarakat mempersiapkan uga rampe, termasuk makanan khas yang dihidangkan.
"Jejongkong' dan "jejorong" merupakan kue makanan yang dihidangkan pada saat upacara Kalembak. Jejongkong dibuat dari bahan dasar singkong yang diisi gula aren, sebagai perlambang magma gunung Krakatau. Sedangkan Jejorong merupakan makanan yang dibungkus daun pisang yang dibuat menyerupai bentuk gunung.
Upacara ini menjadi agenda tahunan masyarakat Banten yang diadakan hingga akhir tahun 1990-an. Akan tetapi setelah dianggap melenceng dari spirit upacara karena justru lebih kental nuansa hiburannya, seprti Dangdutan, oleh tokoh masyarakat acara itu ditiadakan hingga sekarang.
Tokoh masyarakat masih meyakini meletusnya Krakatau karena pesta yang menyalahi adat, maka untuk apa menggelar upacara Kalembak (?) jika kemasan acaranya hura-hura dan bertolak belakang dengan adat.
Pesan ini kiranya masih ada relevansinya di jaman sekarang. Khususnya tatkala kita mengkhawatirkan terkena dampak abu erupsi anak gunung Krakatau yang masih berlangsung hingga saat ini. Semoga Allah SWT melindungi kita semua. Amiin.