Hadiri Muktamar NU: Bukan Menjadi Romli Melainkan Romlah
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Muktamar karena itu seharusnya tidak menjadi peristiwa yang hanya menghasilkan keputusan untuk kemudian dibawa pulang oleh para peserta. Ia harus menjadi momentum untuk mendengar apa yang terjadi di luar ruang persidangan. Sebab, di sanalah kehidupan NU sesungguhnya berlangsung.
Keputusan tentang pendidikan pada akhirnya diuji di madrasah. Kebijakan ekonomi diuji oleh warga yang menjalankan usaha kecil. Gagasan tentang kaderisasi diuji oleh anak-anak muda. Pembicaraan tentang pesantren diuji oleh para pengasuh dan santri. Dan seluruh keputusan organisasi pada akhirnya diuji oleh jamaah dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka yang tidak berada di ruang sidang bukan berarti berada di luar NU. Justru kehidupan merekalah yang menjadi tempat keputusan-keputusan Muktamar memperoleh makna.
Karena itu, “Romlah” sebaiknya tidak berhenti sebagai istilah. Ia bisa menjadi pengingat bahwa NU memiliki dua wajah yang tidak dapat dipisahkan: jam’iyyah sebagai organisasi dan jamaah sebagai basis sosialnya. Jam’iyyah harus kuat agar mampu bekerja. Jamaah harus didengar agar organisasi tetap relevan.
Muktamar yang baik bukan hanya menghasilkan kepemimpinan dan keputusan yang sah. Ia juga mampu memperpendek jarak antara keduanya—antara mereka yang membuat keputusan dan mereka yang menjalani akibatnya.
Pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan di ruang persidangan. Ia juga ditentukan oleh seberapa jauh organisasi mampu mendengar suara yang datang dari luar ruang itu.
Sebab, NU bukan semata forum, struktur, atau kepengurusan. NU adalah jaringan kehidupan yang terbentuk dari jutaan orang yang merasa menjadi bagian darinya. Dan mungkin di situlah makna paling sederhana dari Romlah: mereka yang datang bukan karena jabatan, melainkan karena merasa NU adalah bagian dari hidup mereka.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Guru Besar dan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi VIVA Banten.