Hadiri Muktamar NU: Bukan Menjadi Romli Melainkan Romlah

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN – Setiap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menghadirkan pemandangan yang sama: ribuan warga Nahdliyin datang dari berbagai penjuru negeri. Mereka memenuhi jalan, halaman pesantren, masjid, penginapan, warung, dan ruang-ruang pertemuan di sekitar arena Muktamar.

img_title Muktamar NU ke-35, PCNU Kota Serang Kirim Delegasi dengan Misi Besar Perkuat PBNU dan Suarakan Perubahan

Sebagian datang sebagai peserta resmi. Sebagian lain hadir tanpa mandat organisasi dan tanpa akses ke ruang persidangan. Mereka datang untuk menyaksikan Muktamar, bertemu sesama warga NU, atau sekadar merasakan suasana salah satu forum terbesar dalam kehidupan jam’iyyah.

Kehadiran mereka selama ini lebih sering dibaca sebagai persoalan administrasi dan logistik. Bahkan, ada yang menyebut mereka “Romli”, singkatan dari rombongan liar. Sebutan itu menyiratkan bahwa mereka adalah kerumunan tanpa peran yang jelas.

img_title Putusan Bebas, SEMA 4/2026, dan Bara’ah al-Dzimmah

Cara pandang tersebut agaknya perlu ditinjau kembali. Sebab, NU bukan hanya organisasi. Ia juga jamaah. Hubungan warga dengan NU tidak selalu terbentuk melalui struktur kepengurusan, kartu anggota, atau forum resmi. Ia tumbuh dari pesantren, madrasah, masjid, majelis taklim, tradisi keagamaan, kegiatan sosial, dan ikatan kultural yang berlangsung lintas generasi.

Karena itu, orang yang datang ke Muktamar tanpa hak suara tidak dengan sendirinya berarti tidak mempunyai kepentingan terhadap NU. Mereka justru menunjukkan sesuatu yang penting: rasa memiliki.

img_title KKN Nusantara VI Tinggalkan Jejak Besar, Potensi Desa di Leuwidamar Banten Jadi Mesin Ekonomi Berbasis Ekoteologi

Istilah “Romlah”—Rombongan Lillah—bisa dibaca dalam kerangka itu. Bukan sekadar permainan kata untuk mengganti istilah “Romli”, melainkan sebagai upaya melihat kehadiran warga dari perspektif yang berbeda. Ada orang yang datang dengan biaya sendiri, menempuh perjalanan jauh, tidur seadanya, dan tidak memperoleh apa pun dari forum persidangan. 

Yang mereka cari mungkin hanya satu: berada dekat dengan NU pada saat sebuah keputusan penting sedang dibuat. Hal ini dikarenakan di balik keputusan organisasi selalu ada kehidupan jamaah yang akan merasakan akibatnya.

Di sinilah hubungan antara jam’iyyah dan jamaah menjadi penting. Jam’iyyah membutuhkan struktur, kepemimpinan, aturan, program, dan mekanisme pengambilan keputusan. Tanpa semua itu, organisasi akan kehilangan arah.

Jamaah memberikan konteks sosial bagi organisasi. Dari sanalah kebutuhan, harapan, kegelisahan, dan pengalaman warga tumbuh. Jam’iyyah yang kehilangan hubungan dengan jamaah berisiko berubah menjadi organisasi yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Halaman Selanjutnya
img_title