Pendidikan Formal Masuk Sorotan, Siapa Paling Cocok Pimpin PBNU di Abad Kedua?

Deretan Tokoh Nahdlatul Ulama
Sumber :
  • Artificial Intelligence (AI)

VIVA BANTEN Latar belakang pendidikan formal para tokoh yang berpeluang memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi bahan diskusi. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi NU pada abad kedua, muncul pandangan bahwa rekam jejak pendidikan akademik dapat menjadi salah satu aspek yang layak dipertimbangkan, meski bukan faktor penentu utama.

img_title Pamflet Luna Maya Disebut Jadi Ketua Umum Fatayat NU, Hasil Cek Fakta Bongkar Fakta Sebenarnya

Berdasarkan penelusuran Redaksi VIVA Banten terhadap riwayat pendidikan formal sejumlah nama yang kerap disebut dalam bursa Ketua Umum PBNU, terdapat variasi jenjang pendidikan, mulai dari yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral hingga yang lebih banyak menempuh jalur pendidikan pesantren.

Dalam daftar tersebut, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar menjadi tokoh dengan latar belakang akademik paling lengkap. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di IAIN Alauddin Ujung Pandang, kemudian melanjutkan studi magister dan doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

img_title Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026-2031, Tegaskan NU Bukan Kendaraan Politik dan Siap Satukan Seluruh Kekuatan

Nama berikutnya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin. Ia menempuh pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Agama Islam Al Aqidah dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister di Monash University, Australia, serta meraih gelar doktor di UIN Walisongo Semarang.

Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz diketahui pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan Universitas Terbuka.

img_title 9 Ulama Resmi Masuk AHWA Muktamar ke-35 NU, Berikut Hasil Perolehan Suara dan Daftar Namanya

Adapun KH Yahya Cholil Staquf pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), namun tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Beberapa nama lain yang juga disebut dalam daftar, yakni KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib, dan KH Yusuf Chudlori, lebih dikenal memiliki latar pendidikan pesantren dan belum menyelesaikan pendidikan strata satu.

Tradisi Pesantren Tetap Menjadi Pertimbangan Utama

Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, pendidikan formal bukanlah faktor yang paling dominan dalam menentukan Ketua Umum PBNU. Organisasi yang lahir dari tradisi ulama ini lebih menitikberatkan kapasitas keilmuan yang ditempa melalui pesantren.

Pesantren selama ini dipandang sebagai pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman sekaligus tempat pembentukan karakter kepemimpinan para kiai. Karena itu, mayoritas peserta muktamar atau muktamirin cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap rekam jejak keilmuan pesantren dibandingkan latar belakang akademik di perguruan tinggi.

Halaman Selanjutnya
img_title