Indonesia Bermunajat: Dzikir dan Doa Kebangsaan
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" (QS. Ghafir [40]: 60).
Sabtu, 1 Agustus 2026, masyarakat Indonesia diajak menghadiri Dzikir dan Doa Kebangsaan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ikhtiar kolektif untuk memohon kepada Allah SWT agar negeri ini senantiasa dianugerahi keamanan, persatuan, keadilan, serta keberkahan.
Rasulullah SAW memberikan teladan tentang kemuliaan majelis dzikir. Dari Muawiyah RA diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mendatangi halaqah para sahabat, lalu bertanya, "Apa yang membuat kalian duduk berkumpul?" Mereka menjawab, "Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk Islam yang telah Dia karuniakan kepada kami." Beliau kemudian bersabda: Jibril datang membawa kabar bahwa Allah SWT membanggakan mereka di hadapan para malaikat (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa'i).
Dalam hadis lain, dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk mengingat Allah semata-mata mengharap ridha-Nya, melainkan ada penyeru dari langit yang berkata: Berdirilah kalian dalam keadaan telah diampuni. Sungguh keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan." (HR Ahmad).
Dua hadis tersebut memberikan pesan yang sangat kuat. Pertama, majelis dzikir adalah majelis yang dicintai Allah hingga menjadi kebanggaan di hadapan para malaikat. Kedua, orang-orang yang berkumpul dengan niat ikhlas untuk mengingat Allah memperoleh kabar gembira berupa ampunan dan penggantian dosa dengan kebaikan. Karena itu, menghadiri majelis dzikir bukan hanya memperkuat hubungan antarmanusia, tetapi juga mempererat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Bangsa Indonesia sejak awal berdirinya tidak pernah dipisahkan dari kekuatan doa. Para ulama, kiai, santri, pejuang, dan para pendiri bangsa menjadikan munajat sebagai energi perjuangan. Kemerdekaan bukan hanya buah strategi politik dan pengorbanan fisik, tetapi juga lahir dari air mata yang mengalir dalam tahajud, doa yang dipanjatkan di masjid dan pesantren, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada mereka yang bersungguh-sungguh.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kekuatan spiritual justru semakin dibutuhkan. Kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan ketenangan jiwa. Pertumbuhan ekonomi belum tentu menghadirkan keadilan sosial. Pembangunan fisik pun tidak akan bermakna apabila tidak disertai pembangunan moral. Karena itu, dzikir dan doa kebangsaan merupakan pengingat bahwa pembangunan nasional harus bertumpu pada keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan kekuatan batiniah.