Indonesia Bermunajat: Dzikir dan Doa Kebangsaan
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Al-Qur'an menegaskan, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28). Ayat ini bukan sekadar petunjuk bagi kehidupan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial.
Bangsa yang dihuni oleh masyarakat yang hatinya tenang akan lebih mudah membangun persaudaraan, menghindari permusuhan, serta menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah. Sebaliknya, hati yang jauh dari dzikir mudah dikuasai amarah, keserakahan, dan kebencian yang pada akhirnya merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Momentum Dzikir dan Doa Kebangsaan yang berlangsung menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi sangat bermakna. Kemerdekaan harus disyukuri bukan hanya dengan upacara dan perayaan, tetapi juga dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan doa agar Allah SWT menjaga amanah besar bernama Indonesia. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang adil, rakyat yang bersatu, aparatur yang jujur, generasi muda yang berakhlak, serta kehidupan sosial yang dipenuhi semangat gotong royong.
Negeri ini memerlukan lebih banyak ruang untuk bermunajat bersama. Dari Monas, gema dzikir diharapkan menyebar ke masjid-masjid, pesantren, kampus, perkantoran, dan rumah-rumah, menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun ikhtiar manusia, semuanya tetap bergantung kepada pertolongan Allah SWT. Sebab, doa bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapi kenyataan dengan hati yang teguh.
Ketika bangsa ini menyatukan ikhtiar, persatuan, dan munajat kepada Allah, harapan akan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bukanlah sekadar cita-cita, melainkan ikhtiar yang terus diperjuangkan bersama.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Guru Besar dan Rektor UIN SMH Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.