Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Humas UIN SMH Banten

VIVA BANTEN - Plastik mulai langka. Gangguan pasokan, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan industri membuat benda yang dulu mudah didapat ini kini menjadi barang berharga. Tidak lagi tersedia dalam jumlah yang melimpah, plastik kini menjadi simbol keterbatasan sumber daya yang tak terlihat oleh mata sehari-hari.

img_title Tantangan Industri Meningkat, Perusahaan Plastik di Tangerang Bangun Ketahanan Lewat Kolaborasi

 

Respons masyarakat terhadap kelangkaan ini beragam. Ada yang menanggapi dengan panik karena terbiasa mengandalkan kemudahan plastik, dan ada pula yang melihat sisi positifnya. Tanggapan positif muncul karena limbah plastik tetap menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi daratan maupun lautan.

img_title Mengubah Sampah Plastik Jadi BBM dan Menghasilkan Cuan

 

Menurut United Nations Environment Programme, produksi plastik global tetap mencapai ratusan juta ton per tahun. Namun distribusinya timpang: sebagian wilayah melimpah, sementara ekosistem alami menanggung beban limbah yang tidak terurai. Ketimpangan ini mencerminkan paradoks modern: kelangkaan fisik berbanding terbalik dengan kelimpahan kerusakan lingkungan.

img_title Jelang Lebaran, Kardus Eco-Friendly di Tangerang Jadi Incaran : Target Penjualan Hingga 25 Persen

 

Kajian National Geographic bahkan menunjukkan, seluruh plastik yang pernah diproduksi bisa membungkus bumi berlapis-lapis. Gambaran ini dramatis, mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kelangkaan fisik, melainkan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.

 

Kelangkaan plastik membuka ruang refleksi moral. Al-Qur’an mengingatkan: “Adapun buih (yang tidak bermanfaat) maka lenyap, sedang apa yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi” (QS. Al-Kahfi: 17). Ayat ini menjadi dasar ecoteologi, mengajarkan manusia untuk membedakan apa yang benar-benar berguna dan tidak merusak alam.

 

Dari perspektif ecoteologi, manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Plastik boleh digunakan, tetapi hanya bila memberi manfaat nyata tanpa menambah beban lingkungan. Prinsip ini menuntun pemikiran etis dalam memilih bahan sehari-hari.

 

Solusi teknis mulai muncul sebagai alternatif. Bioplastik dari pati jagung atau rumput laut, kemasan berbasis jamur (mycelium), dan serat bambu menunjukkan bahwa plastik konvensional bukan satu-satunya pilihan. Medium alternatif ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga praktis untuk kehidupan modern.

 

Perubahan konsumsi menjadi kunci. Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri, dan mendukung produk berkelanjutan merupakan langkah konkret. Tindakan ini bukan sekadar praktis, tetapi juga manifestasi tanggung jawab moral terhadap bumi.

Halaman Selanjutnya
img_title