Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi
- Humas UIN SMH Banten
Kelangkaan plastik memberi sinyal bahwa model konsumsi kita harus direvisi. Krisis pasokan bukan akhir dunia, tetapi panggilan untuk meninjau ulang gaya hidup yang selama ini mengabaikan batas ekologis.
Pandangan ecoteologi menekankan keseimbangan. Manusia perlu menyadari bahwa bumi memberi batas. Setiap penggunaan sumber daya harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem.
Mengadopsi bahan yang lebih ramah lingkungan menjadi bentuk kesadaran kolektif. Tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menumbuhkan pola hidup yang selaras dengan alam. Plastik bukan musuh, tetapi pilihan yang salah dapat menimbulkan kerusakan besar.
Kelangkaan plastik mendorong inovasi dan kreativitas. Produsen dan konsumen ditantang menemukan solusi baru, dari desain kemasan hingga sistem daur ulang, yang menjaga manfaat bagi manusia tanpa mengorbankan bumi.
Akhirnya, krisis ini menjadi refleksi etis. Manusia dituntut memilih bahan yang memberi manfaat nyata dan meninggalkan jejak minimal bagi planet. Kelangkaan plastik bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan momentum untuk hidup lebih bijak, selaras dengan prinsip ecoteologi yang menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.