Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • Humas UIN SMH Banten

 

img_title Borong 6 Penghargaan ENSIA 2026 di Bali, UBP Suralaya Buktikan Komitmen Inovasi Lingkungan dan Sosial

Kelangkaan plastik memberi sinyal bahwa model konsumsi kita harus direvisi. Krisis pasokan bukan akhir dunia, tetapi panggilan untuk meninjau ulang gaya hidup yang selama ini mengabaikan batas ekologis.

 

img_title 34 Tahun Tumbuh Bersama Indonesia, Chandra Asri Group Terus Memperkuat Industri Nasional

Pandangan ecoteologi menekankan keseimbangan. Manusia perlu menyadari bahwa bumi memberi batas. Setiap penggunaan sumber daya harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem.

 

img_title APBD Kabupaten Serang Melonjak Rp233,97 Miliar, DPRD dan Pemkab Resmi Sepakati Anggaran Baru, Ini Fokus Prioritasnya

Mengadopsi bahan yang lebih ramah lingkungan menjadi bentuk kesadaran kolektif. Tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menumbuhkan pola hidup yang selaras dengan alam. Plastik bukan musuh, tetapi pilihan yang salah dapat menimbulkan kerusakan besar.

 

Kelangkaan plastik mendorong inovasi dan kreativitas. Produsen dan konsumen ditantang menemukan solusi baru, dari desain kemasan hingga sistem daur ulang, yang menjaga manfaat bagi manusia tanpa mengorbankan bumi.

 

Akhirnya, krisis ini menjadi refleksi etis. Manusia dituntut memilih bahan yang memberi manfaat nyata dan meninggalkan jejak minimal bagi planet. Kelangkaan plastik bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan momentum untuk hidup lebih bijak, selaras dengan prinsip ecoteologi yang menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam.

 

*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

 

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.