Kerap Bergairah dengan Benda Mati? Bisa Jadi Anda Alami Fetisisme, Ini Ciri dan Cara Mengobatinya

Ilustrasi fetisisme
Sumber :
  • Pixabay

Banten.viva.co.id – Seperti yang telah dijelaskan bahwa fetisisme adalah salah satu jenis kelainan seksual (parafilia) yang terjadi ketika seseorang merasa bergairah dan memiliki ketertarikan seksual terhadap benda-benda mati. Misalnya, seorang pria merasa bergairah ketika melihat pasangannya menggunakan high heels saat sedang melakukan hubungan seksual.

Maju Pilbup Pandeglang Ratu Anita Sangadiah Janji Bakal Prioritaskan 4 Hal Ini

Secara umum, fetisisme tidak dianggap sebagai kelainan seksual yang berbahaya selama tidak mengganggu orang lain atau merugikan diri sendiri. Namun, jika hal tersebut telah memicu kecanduan yang membuat seseorang kesulitan untuk mencapai orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya, fetisisme perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Fetisisme adalah salah satu jenis kelainan seksual (parafilia) yang membuat seseorang memiliki ketertarikan seksual terhadap benda mati atau objek yang tidak lazim, seperti sepatu wanita, kaus kaki, atau pakaian dalam. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya selama tidak mengganggu orang lain dan hanya dijadikan sebagai pemicu fantasi.

Cek Layanan Kesehatan, Pj Walkot Tangerang Minta Jam Operasional Ditambah

Untuk mengenali apa itu fetisisme selengkapnya, mari simak pembahasan berikut ini sampai tuntas.

Penyebab Fetisisme

Sadis ! Emak-emak di Tangerang Tusuk Penjaga Toko hingga Tewas Cuma Karena Tak Terima Ditegur

Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami penyimpangan seksual, termasuk fetisisme. Namun, para ahli meyakini bahwa kondisi ini bisa muncul akibat beberapa faktor, seperti faktor neurobiologis, pengalaman saat masa kecil (seperti pernah menjadi korban pelecehan seksual), interpersonal, dan kognitif seseorang.

Biasanya fetisisme muncul saat pubertas, namun bisa mulai berkembang sebelum remaja. Selain itu, beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kompulsif seksual, termasuk fetisisme adalah:

• Adanya ketidakseimbangan senyawa kimia di dalam otak, seperti peningkatan hormon dopamin, serotonin, dan norepinefrin.

• Terdapat perubahan dalam sistem saraf otak.

• Menderita kondisi kesehatan tertentu yang dapat memengaruhi otak, seperti demensia atau epilepsi.

• Di sisi lain, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fetisisme adalah sebagai berikut.

• Berjenis kelamin pria. Pria diduga lebih berisiko mengalami fetisisme jika dibandingkan dengan wanita.

• Mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang atau minuman beralkohol.

• Menderita gangguan kesehatan mental tertentu, seperti depresi atau gangguan kecemasan.

• Pernah mengalami atau melihat kekerasan seksual di masa kecil.

Objek fetish dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu form fetish (bentuk) dan media fetish. Pada form fetish, yang terpenting adalah bentuknya, misalnya objek harus berbentuk high-heels. Pada fetish media, yang terpenting adalah bahannya, misalnya objek harus berbahan kulit atau sutra.

Selain objek fetish, bagian tubuh tertentu yang bukan objek seksual (misalnya ketiak) juga dikategorikan sebagai fetish. Meski pada buku DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) edisi lebih awal, hal ini dikategorikan sebagai parsialisme. 

Di samping itu, fetisisme bisa dikategorikan sebagai penyimpangan seksual apabila memenuhi beberapa kriteria berikut ini.

• Fetisisme telah berlangsung selama lebih dari 6 bulan dan terjadi secara terus-menerus. Seseorang mengalami gairah seksual terhadap benda mati atau bagian-bagian tubuh nonseksual secara intens dan berulang-ulang yang dimanifestasikan melalui dorongan seksual, imajinasi, dan perilaku tertentu setiap penderita melihatnya.

• Fantasi, dorongan seksual, atau perilaku tersebut menyebabkan penderitaan atau gangguan yang signifikan secara klinis dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

• Objek fetish bukanlah bagian dari baju yang dipakai pada cross-dressing (mengenakan pakaian yang biasa digunakan oleh lawan jenisnya pada kelainan seksual transvestisme) ataupun bukan alat bantu seksual, seperti vibrator.

Pada individu yang mengidentifikasi dirinya memiliki fetish tertentu namun tidak mengalami gangguan seperti ulasan di atas, akan dikategorikan sebagai orang dengan fetish, namun tidak memiliki gangguan fetisisme (fetishistic disorder). Diagnosis gangguan fetisisme harus memenuhi kriteria A dan B di atas secara bersamaan.

Pengobatan Fetisisme

Pada beberapa kondisi, fetisisme mungkin tidak memerlukan penanganan tertentu jika masih bisa dikendalikan dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Namun, pada kasus yang tergolong parah, fetisisme perlu ditangani melalui sejumlah tindakan medis, seperti:

• Psikoterapi (talk therapy): Pendekatan psikologis yang dilakukan untuk membantu mengatasi masalah pasien, termasuk perilaku seksual yang menyimpang. Beberapa jenis psikoterapi yang umum dilakukan sebagai cara menyembuhkan fetisisme adalah terapi perilaku kognitif, acceptance and commitment therapy (ACT), dan psikoterapi psikodinamik.

• Penggunaan obat-obatan tertentu: Dokter juga dapat memberikan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan serta obat penenang guna membantu menangani gangguan keseimbangan senyawa kimia dalam otak dan mengurangi pemikiran kompulsif yang berkaitan dengan fetisisme. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan antiandrogen untuk pasien pria guna menurunkan kadar hormon testosteron untuk sementara, sehingga dapat mengendalikan gairah seksual.

Gangguan fetisisme cenderung berfluktuasi dalam intensitas dan frekuensi dorongan maupun perilaku. Akibatnya, pengobatan yang efektif biasanya perlu dilakukan dalam jangka waktu panjang. Selain itu, terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menggabungkan terapi obat dengan terapi perilaku kognitif bisa efektif dalam menangani fetisisme.