Kelompok Gay Jadi Penyumbang Terbesar Kasus HIV di Kota Serang, Hampir Ratusan Orang

Sekertaris KPA Kota Serang Teja Ratri
Sumber :

VIVA BANTEN Kota Serang kembali mencatat perkembangan terbaru terkait penyebaran HIV

img_title Bukan Legalisasi Miras, KH Matin Syarkowi Sebut Revisi Perda PUK untuk Tertibkan Hiburan Liar

Berdasarkan data hingga Oktober 2025, kelompok LSL atau laki-laki suka laki-laki yang secara umum dikenal sebagai kelompok gay menjadi penyumbang terbesar kasus HIV di wilayah tersebut, dengan jumlah 100 orang.

Sekretaris KPA Kota Serang yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan (Sekdis) Kesehatan Kota Serang, dr. Teja Ratri, menyampaikan bahwa prevalensi HIV di Kota Serang justru menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. 

img_title MUSANTRI XVII ORSAFAH Berakhir, Iqbalussalam Fathoni Resmi Nahkodai Santri Al-Fathaniyah Periode 2026–2028

Dari angka 1 persen tiga tahun lalu, turun menjadi 0,8 persen, dan kini berada di 0,7 persen hingga Oktober 2025. Namun, penemuan kasus baru tetap terjadi.

“Penemuan barunya 147 di tahun ini,” ujarnya. 

img_title Bela Lokal, Beli Lokal! Pesan Budi Rustandi Saat Buka Kota Serang Fair 2026

Sementara jumlah kumulatif sejak Kota Serang berdiri mencapai 405 kasus pada 2024, dan terus bertambah karena HIV merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan seumur hidup.

Teja menjelaskan bahwa terdapat delapan populasi kunci yang rentan, mulai dari LSL, WPS (pekerja seks), waria, ibu hamil, hingga warga binaan di lapas dan rutan. Namun, kelompok LSL menjadi yang paling dominan. 

“Dominasinya lebih ke LSL (Gay) Jumlahnya sekarang kurang lebih ada di angka 100 lebihan mendekati 200,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tidak semuanya berasal dari warga asli Kota Serang, karena sebagian merupakan pendatang.

Teja menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan kasus terus ditemukan, mulai dari gaya hidup, cara pandang terhadap kepercayaan dan agama, hingga pasien yang tidak mengakses layanan pengobatan. 

“Ada penderita yang tidak mengakses pengobatan sehingga pasangannya atau kontak seksualnya ikut terkena HIV,” ucapnya.

Dari total penderita, tidak semuanya rutin meminum obat. Teja mengatakan angka putus berobat saat ini berada di sekitar 15 persen. 

“Mereka kadang merasa sensitif saat berobat ke layanan. Padahal kita terus arahkan. Ada juga yang mengungkapkan efek samping obat membuat mereka enggan minum obat,” jelasnya.