AI, Medsos dan Masa Depan Media Massa
- Viva.co.id
VivaBanten – Kehadiran Artificial Inteligence atau AI menjadi tantangan terbesar saat ini. Selain memudahkan pekerjaan manusia, juga mengancam keberlangsungan hajat hidup orang banyak.
Editan foto, video hingga lagu yang dibuat menggunakan AI nyaris sempurna dan mirip dengan manusia asli.
Kecerdasan buatan itu mengancam kehidupan media massa yang bekerja menggunakan pengolahan data, verifikasi hingga rasa yang ada disetiap tulisan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan bahwa, pada abad ke-21, AI mengalami perkembangan pesat hingga kini teknologi tersebut bisa memadukan gambar, audio, dan teks untuk menciptakan video atau foto yang realistis.
"Kita lihat bagaimana perkembangan teknologi ini mengubah hubungan-hubungan profesional dan hubungan produksi yang ada di dalam korporasi atau pun di dalam industri. Inilah yang mengguncangkan banyak sisi dari masyarakat, termasuk juga jurnalisme," kata Nezar Patria.
Industri media massa, radio, online, televisi maupun cetak, mengalami tantangan berat, pertama, berasal dari platform media sosial (medsos) yang mengambil alih kontrol terhadap audiens.
Bisnis Media Sosial
- Pixabay/Geralt
Dulu di media cetak ada hubungan emosional yang kuat antara pembaca dan media. Lalu datang platform media sosial yang mengontrol audiens.
"Sekarang direct traffic ke situs sangat kecil, karena rata-rata sebagian besar distribusi konten media lewat platform media sosial," ucap Nezar Patria.
Tantangan kedua yakni kemunculan AI generatif yang mampu memproduksi konten secara otomatis.
Kecerdasan buatan AI mampu membuat ringkasan hingga naskah berita dari data-data yang telah diolah.
Produksi konten berita menggunakan kecerdasan buatan menimbulkan persoalan atau konflik hak cipta, karena bisa meniru gaya penulisan dari berbagai macam media yang ada saat ini.
"Hanya reporter yang dibutuhkan (untuk memproduksi berita). Untuk pengolahan data dan lainnya itu bisa dikerjakan oleh generative AI. Platform-platform aplikasi AI bisa mengubah bahan-bahan itu dan menjadi tulisan," paparnya.
Maraknya medsos dan penggunaan AI, membuat banyaknya misinformasi, karena tidak dilakukan verifikasi maupun kroscek data yang ada. Karena kecerdasan buatan tidak dibuat untuk itu, serta tak mengenal kode etik jurnalistik.
Aplikasi Media Sosial terpopuler di dunia
- Pixabay
Fenomena misinformasi juga marak karena siapa pun dapat membuat konten berita tanpa jaminan kredibilitas.
"Muncul apa yang kita kenal sebagai information disorder atau kekacauan informasi. Karena apa? Kita tidak tahu lagi mana informasi yang benar atau tidak benar," tuturnya.
Hanya seseorang yang mendedikasikan dirinya untuk mengolah data dan informasilah yang bisa menghasilkan produk jurnalistik berkualitas, dengan mematuhi kode etik jurnalistik.
Wamenkomdigi menegaskan, dalam memproduksi konten berita, jurnalisme tetap memiliki keunggulan dibanding AI yaitu disiplin verifikasi.
Nezar mengaku pemerintah sedang menyiapkan peta jalan nasional AI yang diharapkan mampu mendorong pemanfaatan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
"Kita berharap industri media bisa adaptif dengan perubahan-perubahan yang terjadi ini," paparnya.
Artikel ini sudah tayang di VIVA.co.id dengan judul Nezar Patria Akui Industri Media Terguncang akibat AI