Studi Humaniora di Tengah Dentuman Teknologi Perang
- Facebook/Kang Ishom
VIVA BANTEN – Fragmentasi dalam penguatan studi dan riset teknologi, sains, dan medis di era sekarang sering melahirkan kesan bahwa ilmu humaniora semakin kehilangan relevansinya. Perguruan tinggi dan lembaga riset di berbagai negara berlomba memperkuat bidang kecerdasan buatan, teknologi militer, bioteknologi, hingga sistem keamanan siber. Dalam arus kompetisi global tersebut, humaniora kerap dipersepsikan sebagai disiplin yang kurang strategis dalam menghadapi tantangan geopolitik kontemporer.
Pandangan tersebut semakin menguat ketika konflik geopolitik modern tampak didominasi oleh kecanggihan teknologi. Negara-negara besar mengukur kekuatan mereka melalui kemampuan pengembangan drone tempur, rudal hipersonik, sistem pertahanan udara, serta jaringan satelit militer. Dalam logika politik global yang semakin teknokratis, kemenangan atau kekalahan dalam konflik sering dipahami sebagai persoalan keunggulan teknologi semata.
Eskalasi konflik yang melibatkan Iran versus Israel, dan Amerika Serikat serta konflik Ukraina-Rusia memperlihatkan dengan jelas dominasi perspektif teknologi tersebut. Pertukaran serangan drone dan rudal jarak jauh menjadi simbol fase baru perang modern. Operasi militer tidak lagi selalu bergantung pada mobilisasi pasukan besar, melainkan pada sistem persenjataan presisi yang dapat diluncurkan dari jarak ribuan kilometer.
Perkembangan mutakhir bahkan menunjukkan bahwa perang modern semakin menyerupai kompetisi efisiensi teknologi. Drone murah yang diproduksi secara massal mampu menekan sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal. Dalam logika ini, konflik tidak hanya menjadi soal kekuatan militer, tetapi juga persoalan kapasitas industri, inovasi teknologi, dan ketahanan ekonomi suatu negara.
Namun, jika konflik geopolitik hanya dipahami sebagai perlombaan teknologi militer, analisis tersebut menjadi terlalu menyederhanakan persoalan. Konflik antarnegara selalu melibatkan manusia dengan seluruh kompleksitas sejarah, identitas, ideologi, dan pengalaman kolektif yang membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Teknologi mungkin menjadi alat, tetapi akar konflik tetap berada dalam ranah sosial dan kultural.
Hubungan Iran dan Israel, misalnya, tidak dapat dipahami hanya melalui kalkulasi militer. Permusuhan keduanya dipengaruhi oleh sejarah panjang rivalitas politik kawasan, perbedaan ideologi, serta narasi identitas yang berkembang sejak perubahan politik Iran pada akhir 1970-an. Tanpa memahami dimensi historis dan ideologis tersebut, analisis konflik menjadi kehilangan konteks yang mendasar.