Kisah Adud al-Daula: Bapak Haji yang Bijaksana
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Wajahnya pucat. Napasnya memburu.
“Tidak… tidak mungkin…”
Ia mulai menangis keras sambil memukuli wajahnya sendiri.
“Bumi telah mencuri uangku! Bumi telah memakan hartaku!”
Orang-orang yang melihat keadaannya merasa iba. Kisah itu pun tersebar hingga akhirnya seseorang berkata kepadanya,
“Pergilah kepada Adud al-Daula. Ia dikenal cerdas dan bijaksana.”
Pedagang itu menjawab dengan putus asa, “Apakah ia mengetahui perkara gaib?”
“Tidak,” jawab orang itu, “tetapi tidak ada salahnya engkau mencobanya.”
Maka pergilah sang pedagang menghadap Adud al Daula dan menceritakan seluruh kisahnya: tentang pohon jarak, seribu dinar, dan hilangnya harta itu sepulang haji.
Sang penguasa mendengarkan dengan tenang, lalu memerintahkan agar seluruh tabib istana dikumpulkan.
Ketika mereka hadir, Adud al-Daula bertanya,
“Apakah tahun ini ada di antara kalian yang mengobati seseorang dengan akar pohon jarak?”
Seorang tabib menjawab, “Ya, aku pernah mengobati salah satu kerabat dekat istana dengan akar jarak.”
“Siapa yang membawakan akar itu?” tanya Adud al-Daula.
“Seorang penjaga pintu istana.”
“Panggil orang itu.”
Tak lama kemudian penjaga pintu datang menghadap. Adud al-Daula menatapnya tajam.
“Dari mana engkau mendapatkan akar jarak itu?”
Penjaga itu menyebutkan sebuah tempat di padang pasir.
Adud al-Daula segera berkata, “Bawa pedagang ini bersamamu dan tunjukkan tempatnya.”
Mereka pun pergi bersama hingga tiba di sebuah pohon jarak yang berdiri sendiri di tengah padang pasir.
Saat melihatnya, sang pedagang berteriak,
“Demi Allah! Di sinilah aku menguburkan uangku!”
Seketika wajah penjaga pintu berubah pucat.
Mereka kembali ke istana dan melaporkan semuanya kepada Adud al-Dawla.
Sang penguasa berkata dengan suara tegas,
“Kembalikan uangnya.”
Penjaga itu terdiam dan mencoba mengelak. Namun setelah Adud al-Daula mengancamnya dengan hukuman berat, ia pun menyerahkan kembali seribu dinar tersebut.
Pedagang itu menangis—kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena rasa syukur.
Ia menyadari bahwa kecerdasan seorang pemimpin yang adil dapat menjadi sebab terselamatkannya hak orang lain, dan bahwa Allah mampu mengembalikan sesuatu yang hilang melalui jalan yang tak pernah disangka-sangka.