Kenapa Ibnu Muljam Tak Dimaafkan Sejarah?

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom
Sumber :
  • VIVA Banten/Taufik Hidayat

Qatam binti al-Shajna merupakan wanita yang sangat cantik dan terkenal karena paras ayunya. Ketika Ibn Muljam melihatnya, ia terpesona, dan ingin melamarnya. Qatam bersedia dinikahi dengan syarat Ibnu Muljam sanggup membayar tiga ribu dirham, menyediakan seorang pelayan, dan seorang budak perempuan sebagai maharnya.

img_title NU, Negara dan Godaan Kekuasaan: Menjaga Warisan Para Muassis dari Pesantren Tambakberas

Tidak cukup itu saja, Qatam meminta Ibnu Muljam agar ia membunuh Ali bin Abi Thalib untuknya. Ibn Muljam pun menyanggupinya seraya berkata: “Ini mahar milikmu, dan demi Allah, tidak ada yang membawaku ke kota Kuffah kecuali untuk membunuh Ali.”

Pada  malam tanggal 17 Ramadan, Ibnu Muljam mengajak dua laki-laki bernama Wirdan dan Syubaib untuk membantu rencana jahatnya menghabisi Ali bin Abi Thalib.  Untuk meyakinkan keduanya maka Ibnu Muljam berdalih bahwa Ali telah berpaling dari ajaran Allah SWT sehingga halal darahnya.

img_title Hadiri Muktamar NU: Bukan Menjadi Romli Melainkan Romlah

Mereka menunggu keluarnya Ali bin Abi Thalib di saat fajar untuk menunaikan salat subuh.  Pada pagi-pagi buta setelah Ali bin Abi Thalib keluar rumah menuju masjid, Ibnu Muljam menikam sang amirul mukminin sehingga wafat akibat luka yang dideritanya.

Itulah kejahatan Ibnu Muljam. Tidak saja karena membunuh Amirul mukminin, akan tetapi juga dirinya berkhianat, dan menjadikan agama sebagai alasan menghalalkan kepentingan pribadinya. Makanya wajar sejarah tidak mengampuni kejahatan Ibnu Muljam.

img_title Putusan Bebas, SEMA 4/2026, dan Bara’ah al-Dzimmah

*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el-Saha, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi VIVA Banten.