Tsumamah bin Utsal: Sahabat yang Pertama Kali Lantang Baca Talbiyah
- Taufik Hidayat/Viva Banten
Pada hari ketiga, Rasulullah SAW membuat keputusan yang mengejutkan semua orang. Beliau berkata kepada para sahabat, “Lepaskan Tsumamah.” Tidak ada tebusan, tidak ada syarat, dan tidak ada balas dendam.
Kebebasan yang diberikan dengan penuh kemuliaan itu mengguncang hati Tsumamah. Ia pergi mandi di sebuah kebun kurma dekat masjid, lalu kembali menemui Rasulullah SAW. Dengan suara mantap ia mengucapkan syahadat di hadapan kaum Muslimin.
Perkataan Tsumamah setelah masuk Islam menjadi salah satu pengakuan paling jujur dalam sejarah dakwah. Ia berkata, “Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci di muka bumi selain wajahmu. Namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agamamu, namun sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai.”
Perubahan hati Tsumamah menunjukkan kekuatan tarbiyah Rasulullah. Nabi tidak menaklukkan manusia dengan pedang, melainkan dengan akhlak. Beliau memahami bahwa hati manusia dapat luluh oleh kasih sayang dan penghormatan.
Setelah memeluk Islam, Tsumamah tidak setengah-setengah dalam membela agama Allah. Ia menggunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mendukung kaum Muslimin. Bahkan ia pernah memblokade pasokan gandum ke Makkah hingga kaum Quraisy mengalami kesulitan besar.
Namun ketika mereka meminta bantuan kepada Rasulullah SAW, Nabi justru memerintahkan Tsumamah untuk membuka kembali jalur makanan bagi mereka. Sekali lagi, Islam mengajarkan rahmat, bukan kebencian.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.