Antara Gus Dur, Bintang Kejora dan Bendera Jolly Roger dari One Piece
- Instagram Gusdurian
VivaBanten – Sebelum ramai ajakan pengibaran bendera Jolly Roger dari setiap manga One Piece, jelang HUT RI ke 80. Indonesia lebih dulu diramaikan dengan bendera Bintang Kejora di Papua. Namun. ditanggapi santai oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menjabat sebagai Presiden RI.
Belakangan, banyak politisi dan pejabat negara menolak adanya pengibaran bendera Jolly Roger di setiap manga One Piece, dengan beragam alasan, seperti berbahaya, tidak nasionalisme hingga disebut makar terhadap bangsa Indonesia.
Bahkan Wakapolda Banten, Brigjen Pol Hengki, akan menindak secara hukum jika ditemukan pelanggaran pidana dari pengibaran bendera Jolley Roger dari setiap manga One Piece.
Mengutip website NU Online, Senin, 04 Agustus 2025, saat itu, Wiranto yang menjabat Menko Polkam melaporkan ke Gus Dur, bahwa ada pengibaran bendera Bintang Kejora di tanah Papua.
"Bapak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora," ujar Wiranto melapor.
Senyum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
- TvOneNews.com
Mendengar laporan tersebut, kemudian Gus Dur bertanya, “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?” tanya Gus Dur.
“Ada hanya satu, tinggi,” ujar Wiranto sigap.
Mendengar jawaban itu, Gus Dur kemudian menjawab, “Ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul,” ujar Gus Dur santai.
"Tapi Bapak Presiden, ini sangat berbahaya," lanjut Wiranto.
"Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul! Sepak bola saja banyak benderanya!" jawab Gus Dur.
Gus Dur (2007) yang sudah tidak lagi jadi Presiden, kembali menyebut alasannya memperbolehkan bendera Bintang Kejora berkibar.
Presiden Prabowo Sanjung Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
- Viva.co.id
Gus Dur menganggap bendera Bintang Kejora hanya bendera kultural warga Papua, “Bintang kejora bendera kultural. Kalau kita anggap sebagai bendera politik, salah kita sendiri,” kata Gus Dur kepada wartawan.
Gus Dur, yang saat menjabat presiden mengabulkan permintaan masyarakat Irian Jaya (waktu itu) untuk menggunakan sebutan Papua, justru menuding polisi dan TNI tidak berpikir mendalam ketika melarang pengibaran bendera Bintang Kejora.
“Ketika polisi melarang, tidak dipikir mendalam, (tim) sepak bola saja punya bendera sendiri. Kita tak perlu ngotot sesuatu yang tak benar,” katanya. Selengkapnya Klik Disini