KH Said Aqil Siradj: IKA PMII Harus Jadi Benteng Islam Hadapi Gempuran AI dan Krisis Budaya

Ketua Dewan Pakar PB IKA PMII, Prof. KH Said Aqil Siradj
Sumber :
  • Instagram @pbikapmii

VIVA BANTEN – Ketua Dewan Pakar PB IKA PMII, Prof. KH Said Aqil Siradj, menyerukan peran strategis alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di tengah kemajuan zaman yang kian tak terbendung. Seruan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama dan pelantikan pengurus baru IKA PMII di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu, 13 Juli 2025.

img_title 9 Ulama Resmi Masuk AHWA Muktamar ke-35 NU, Berikut Hasil Perolehan Suara dan Daftar Namanya

Dalam pidatonya, KH Said Aqil menekankan bahwa IKA PMII tidak bisa tinggal diam. Ia menuntut agar organisasi ini menjadi pelindung umat dan penjaga nilai-nilai Islam ahlussunah wal jamaah di tengah gelombang teknologi dan arus globalisasi yang mengguncang.

“IKA PMII harus jadi marji’, tingteng, dan referensi. Kita harus jadi benteng dan pengayom bagi generasi mendatang,” ujar KH Said Aqil, dikutip dari akun resmi @pbikapmii, Minggu, 12 Juli 2025.

img_title Di Muktamar NU ke-35, PB IKA-PMII Konsolidasikan Alumni Bahas Ketahanan Pangan dan Perang Melawan Illegal Market

Era Digital Penuh Ancaman

KH Said Aqil menyoroti kecepatan perkembangan teknologi digital, terutama kecerdasan buatan (AI), media sosial seperti YouTube, dan dominasi mesin pencari seperti Google. Menurutnya, arus digital ini memengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat secara luas.

img_title Muktamar NU ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, PMII: Apakah Banom?

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga membawa tantangan serius bagi umat Islam, terutama dalam menjaga identitas keagamaan dan budaya lokal.

“Ini adalah tsunami teknologi. Kita harus punya strategi untuk menghadapi, bukan hanya menghindari,” tegasnya.

Krisis Budaya dan Geopolitik

Selain teknologi, KH Said Aqil juga mengingatkan ancaman yang datang dari luar, seperti ketidakpastian politik global, dominasi ekonomi negara besar, dan kehancuran budaya yang makin terasa.

“Kita sedang menghadapi kehancuran nilai, dominasi ekonomi global, dan guncangan geopolitik. IKA PMII harus bersikap dan memberi solusi,” katanya.

Potensi Sosial Budaya Masih Terpendam

KH Said Aqil menyayangkan minimnya pemanfaatan terhadap kekayaan sosial dan kultural umat Islam di Indonesia. Ia menilai potensi besar yang dimiliki masyarakat, baik dari sisi jumlah maupun kekuatan budaya, belum dikelola dengan baik.

“Kita punya kekuatan simbolik dan sosial yang luar biasa. Tapi jujur saja, kita belum mampu memanajemennya secara optimal. Kalau potensi ini dikelola dengan benar, tak ada yang bisa menyaingi kita,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title