Agraria Bukan Maritim, Diskusi Soal Pertanian dan Solusinya
- Yandi Sofyan/Banten.viva.co.id
VivaBanten – Para petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan benih, pupuk hingga memasarkan hasil pertaniannya dalam sebuah diskusi bertajuk Agraria Bukan Maritim, di Perpustakaan Jagaraksa Lembur Kula, kaki Gunung Karang, Desa Pasirpeuteuy, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Diskusi tersebut membedah tantangan yang dialami para petani, termasuk kekhawatiran anak muda untuk kembali bertani.
"Pentingnya kolaborasi kuat demi menyejahterakan kaum tani dari jeratan sistem tata niaga yang selama ini belum berpihak secara adil," ujar Misbah, sosiopreneur, ditulis Selasa, 16 Juni 2026.
Pemerintah berperan penting memberikan solusi atas kekhawatiran para petani. Sehingga Indonesia bisa tetap menjadi negara agraris, agar swasembada pangan tercapai dan petani sejahtera.
Diskusi Agraria Bukan Maritim di Pandeglang, Banten.
- Istimewa
"Peran krusial pemerintah yang harus didorong untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang adil, berpihak, dan melindungi hak-hak ekonomi masyarakat agraris," ujar Jepri PR, salah satu influenser, ditulis Selasa, 16 Juni 2026.
Di era digital saat ini, promosi hasil pertanian bisa memanfaatkan dunia maya. Sehingga hasil alam bisa dibeli oleh siapapun diseluruh Indonesia, karena metode pengiriman sudah semakin banyak.
Branding pertanian juga bisa dibuat melalui berbagai konten yang bisa diunggah ke berbagai platform media sosial, sehingga menarik minat pembeli.
"Di era digital saat ini, petani bersama generasi muda harus mampu menciptakan branding baru agar komoditas yang dihasilkan memiliki daya saing yang tinggi dan harga jual yang lebih bernilai," ucap Nayla Zahroe Azharinie, Wakil 2 Duta Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Banten 2025, ditulis Jumat, 16 Juni 2026.