Harga Saham Anjlok, Prabowo Bongkar Strategi Ekonomi: Saya Tidak Gentar Meski IHSG Anjlok, Indonesia Punya Kekuatan!
- Instagram @presidenrepublikindonesia
Banten.viva.co.id – Presiden Prabowo Subianto menyikapi penurunan drastis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan tenang.
Dalam wawancara eksklusif dengan tujuh pemimpin media nasional di kanal YouTube Najwa Shihab, Senin, 7 April 2025, ia menegaskan Indonesia tidak perlu khawatir dengan gejolak pasar modal.
"Pasar saham itu mekanisme biasa. Naik-turun itu hal wajar. Saya tidak takut," tegas Prabowo.
Pada 18 Maret 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan sementara perdagangan (trading halt).
Keputusan ini diambil setelah IHSG anjlok lebih dari 5% dalam satu hari.
Prabowo menyebut pelaku pasar saham cenderung mencari keuntungan cepat.
"Investor saham biasanya mau untung instan. Berbeda dengan investasi langsung yang lebih terencana jangka panjang," ujarnya.
Investasi Langsung vs Pasar Modal
Mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia ini membedakan antara spekulasi saham dan investasi riil.
Menurutnya, pembangunan pabrik, pengembangan distribusi, dan pengolahan bahan baku jauh lebih penting bagi perekonomian.
"Ekonomi sejati ada di sektor riil. Pasar modal hanya salah satu indikator, bukan patokan utama," jelas Prabowo.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah panik.
"Saat IHSG turun, ramai bilang ekonomi kolaps. Tapi ketika naik, semua diam. Ini siklus normal," tambahnya.
Belajar dari AS
Prabowo mengambil contoh kebijakan ekonomi Donald Trump di Amerika Serikat.
Meski pernah mengalami gejolak pasar, AS berhasil memperkuat fundamental ekonominya.
"Kita tidak boleh minder. Kadang mental bangsa ini suka diatur merasa lemah. Padahal Indonesia punya kekuatan besar," tegasnya.
Presiden ke-8 RI ini yakin Indonesia mampu melewati tantangan pasar global.
Ia menekankan pentingnya fokus pada pembangunan infrastruktur dan industri.
"Fluktuasi saham bukan akhir dunia. Yang penting kita terus bangun pondasi ekonomi kuat," papar Prabowo.
Analis menilai pernyataan ini sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak akan intervensi berlebihan di pasar modal. Kebijakan akan lebih difokuskan pada stabilisasi makroekonomi.