Muktamar NU 2026: Isu PMII vs Non-PMII Apakah Sudah Kehilangan Relevansi?
- Foto AI
Fokus Dinilai Perlu Bergeser
Hal yang paling mendasar jadi perhatian dari perdebatan mengenai asal organisasi kemahasiswaan menuju kualitas kepemimpinan calon Ketua Umum PBNU.
Muktamar NU merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang bertujuan memilih pemimpin terbaik bagi masa depan jam'iyah. Oleh sebab itu, substansi yang lebih penting adalah kemampuan kandidat dalam memperkuat organisasi serta menjaga persatuan warga Nahdlatul Ulama.
Urgensinya visi strategis dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan. Mulai dari penguatan organisasi, peningkatan kemandirian ekonomi umat, pembangunan nasional, transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), hingga perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Tantangan tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh potensi kader NU tanpa mempersoalkan latar belakang organisasi kemahasiswaan.
Adu Gagasan Dinilai Lebih Penting
Ruang publik menjelang Muktamar NU seharusnya dipenuhi dengan diskusi mengenai visi, integritas, rekam jejak pengabdian, kemampuan membangun konsolidasi organisasi, serta gagasan besar untuk masa depan Nahdlatul Ulama.
Ukuran utama dalam memilih Ketua Umum PBNU semestinya tidak lagi bertumpu pada identitas masa lalu, melainkan pada kapasitas kepemimpinan yang mampu membawa organisasi menghadapi tantangan zaman.
Yang lebih penting untuk diperdebatkan adalah sejauh mana para kandidat memiliki visi strategis dalam memperkuat organisasi, menjaga persatuan warga NU, memperluas peran NU dalam pembangunan nasional, memperkuat kemandirian ekonomi umat, serta menyiapkan NU menghadapi tantangan global, transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial, dan perubahan sosial yang semakin cepat.
PMII Dinilai Berhasil Melahirkan Kader di Berbagai Bidang
Konklusinya bahwa keberhasilan PMII justru terlihat dari kemampuan organisasi tersebut melahirkan kader yang tersebar di berbagai lini pengabdian.
Kader-kader tersebut, berkontribusi kepada Nahdlatul Ulama melalui berbagai profesi, lembaga, serta pilihan pengabdian yang berbeda-beda.
Atas dasar itu, bahwa ketika hampir seluruh kubu dalam kontestasi Muktamar telah diisi alumni PMII, maka narasi PMII versus non-PMII tidak lagi memiliki nilai pembeda yang signifikan.
Fokus utama menjelang Muktamar NU sebaiknya diarahkan pada pencarian sosok pemimpin yang memiliki integritas, kemampuan menyatukan seluruh elemen Nahdliyin, memperkuat konsolidasi organisasi, serta membawa Nahdlatul Ulama semakin berperan sebagai organisasi keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang berpengaruh, baik di tingkat nasional maupun global.