KH Tb Abdul Hakim Wafat, Ribuan Umat NU Banten Antar ke Peristirahatan Terakhir
- ISTIMEWA
VIVA BANTEN – Ribuan umat tumpah ruah di Desa Kananga, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu, 6 Agustus 2025. Mereka datang dari berbagai daerah untuk mengantarkan KH Tb Abdul Hakim ke tempat peristirahatan terakhir.
Ulama kharismatik dan pengasuh Pondok Pesantren Kananga ini wafat sehari sebelumnya, Selasa malam pukul 21.00 WIB, karena sakit.
Arak-arakan jenazah berlangsung khidmat. Warga, santri, keluarga, jemaah pengajian, hingga kader Nahdlatul Ulama (NU) berjalan kaki sambil melantunkan doa. Mereka mengiringi keranda almarhum dari pesantren hingga ke pemakaman yang berada di lingkungan pesantren.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan penuh haru. Tangis para pelayat pecah di tengah lantunan doa dan tahlil yang menggema di seluruh area pesantren.
Duka Mendalam Keluarga dan Santri
Kabar wafatnya KH Tb Abdul Hakim menyebar cepat di kalangan masyarakat dan tokoh-tokoh agama Banten. Ungkapan belasungkawa membanjiri media sosial dan grup pesantren. Yayasan Pondok Pesantren Kananga mengumumkan kabar duka ini melalui pernyataan resmi.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami keluarga besar Pesantren Kananga berduka atas wafatnya guru kami, Abah KH Tb Abdul Hakim," tulis pihak pesantren dalam unggahan di media sosial.
"Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya," lanjut pernyataan tersebut.
Sosok Ulama yang Bersahaja
KH Tb Abdul Hakim dikenal sebagai ulama yang sederhana namun teguh dalam prinsip. Ia dihormati bukan hanya oleh kalangan Nahdliyyin, tetapi juga oleh masyarakat lintas golongan di Banten.
Selama hidupnya, ia membaktikan diri dalam pendidikan agama dan pembinaan masyarakat. Pondok Pesantren Kananga menjadi tempat ia menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Banten bahkan luar provinsi.
Riwayat Singkat Sang Ulama
KH Tb Abdul Hakim lahir di Kananga, Menes, Pandeglang pada 6 Juli 1947. Ia anak keempat dari enam bersaudara, putra pasangan KH Abdul Mu’ti dan Hj Ratu Halimatusa’diah. Garis keturunannya tersambung kepada KH Tubagus Abdul Hadi bin Shogiri, tokoh ulama Banten yang disegani.