Belajar dari Nepal: Bijak dalam Berpendapat dan Berekspresi

Belajar dari Nepal
Sumber :
  • ISTIMEWA

VIV BANTEN – Kerusuhan yang terjadi di Nepal menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana ekspresi ketidakpuasan yang tidak disalurkan secara bijak dapat berujung pada konflik dan chaos. Nepal mengalami fase panjang ketegangan politik dan sosial karena ketimpangan, marginalisasi, dan lemahnya ruang dialog antara rakyat dan pemerintah. Dalam konteks Indonesia, peristiwa ini harus menjadi refleksi agar kebebasan berpendapat dan berekspresi tidak disalahgunakan, melainkan dijalankan secara bertanggung jawab untuk memperkuat demokrasi.

img_title Seminar Nasional Menuju IGIC 2026, Prof Ishom: Serukan Masjid Jadi Pusat Diplomasi Dunia demi Wujudkan Perdamaian Global

Nepal menunjukkan bahwa ketika ruang ekspresi rakyat disumbat atau tidak direspons secara adil, masyarakat akan mencari cara alternatif untuk bersuara, termasuk melalui kekerasan. Namun, ketika ekspresi dilakukan tanpa kebijaksanaan, dengan retorika yang membakar emosi dan tanpa arah solusi, hal itu hanya memperbesar perpecahan. Di Indonesia, kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi, tapi tanggung jawab moral dalam menyampaikan pendapat perlu terus ditekankan agar demokrasi tidak berubah menjadi anarki.

Media sosial di Indonesia, misalnya, telah menjadi ruang ekspresi yang luar biasa luas, tetapi juga rawan disalahgunakan. Banyak pihak melampiaskan kemarahan tanpa dasar, menyebarkan hoaks, atau menghina pihak lain atas nama kebebasan berekspresi. Belajar dari Nepal, ekspresi yang tak disertai literasi politik dan empati sosial justru memperkeruh keadaan dan membuka celah bagi konflik horizontal. Indonesia butuh budaya berpendapat yang lebih sehat, terbuka untuk perbedaan, dan menjunjung etika komunikasi.

img_title Rektor UIN SMH Banten Lantik Eva Syarifah Wardah Jadi Dekan Baru, Siap Ubah Fakultas Adab dan Humaniora Lebih Maju

Elit politik dan tokoh publik juga memegang peran besar dalam membentuk iklim ekspresi di masyarakat. Di Nepal, elit kerap memperuncing narasi identitas demi kepentingan jangka pendek, yang akhirnya memecah belah bangsa. Jika elit Indonesia ikut-ikutan memanfaatkan kebebasan sebagai alat propaganda dan provokasi, maka yang terjadi bukanlah demokrasi sehat, melainkan polarisasi yang membahayakan persatuan. Sudah saatnya elit menunjukkan keteladanan dalam berdialog dan menghormati perbedaan.

Bagi masyarakat Indonesia, pelajaran penting dari Nepal adalah bahwa berpendapat bukan sekadar menyuarakan isi hati, tetapi juga soal tanggung jawab membangun. Setiap pendapat harus dilandasi niat mencari solusi, bukan hanya menambah keruh suasana. Demonstrasi, kritik di media sosial, atau diskusi publik harus diarahkan untuk memperkuat ruang demokrasi, bukan menjadi saluran kemarahan yang tak terarah. Ekspresi harus menjadi jembatan, bukan jurang pemisah.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan