Biografi Abuya Dimyati Cidahu, Ulama Banten yang Menginspirasi Dunia dengan Ilmu dan Ketawadhuan
- Instagram @pecinta_abuyamuhtadi
Banten.viva.co.id – Abuya Dimyati Cidahu, yang juga dikenal sebagai Mbah Dim, adalah sosok ulama yang sangat dihormati di Banten hingga ke berbagai belahan dunia. Kepiawaian beliau dalam ilmu agama dan sikap tawadhunya membuatnya menjadi panutan bagi banyak orang.
Kisah hidupnya, yang penuh dengan perjalanan menuntut ilmu, menjadi inspirasi bagi banyak santri dan masyarakat.
Kelahiran dan Awal Kehidupan Abuya Dimyati
Biografi KH. Muhammad Dimyathi, yang akrab disapa Abuya Dimyati, lahir sekitar tahun 1925 di Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Amin dan Hj. Ruqayah.
Sejak kecil, Abuya sudah menunjukkan kecerdasan dan keshalihan yang luar biasa, yang kemudian membawanya untuk memulai perjalanan panjang dalam menuntut ilmu agama.
Perjalanan Menuntut Ilmu yang Tak Kenal Henti
Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok yang sangat haus akan ilmu. Beliau tidak hanya belajar di satu pesantren, tetapi berkeliling ke berbagai daerah di Jawa dan bahkan ke Pulau Lombok untuk menuntut ilmu dari para ulama sepuh.
Di antara gurunya yang terkenal adalah Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri, Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran, dan banyak lagi. Semua guru beliau mengarah pada Syekh Nawawi al-Bantani sebagai sumber utama pengetahuan agama.
Meskipun sudah berkeluarga dan memiliki anak, Abuya Dimyati tetap tidak berhenti mencari ilmu.
Bahkan, ia membawa serta anaknya untuk belajar di pesantren, mencerminkan ketekunan dan dedikasinya dalam menuntut ilmu agama.
Cerita Menarik dalam Proses Belajar
Abuya Dimyati dikenal memiliki ketekunan luar biasa dalam mencari ilmu, bahkan ketika berhadapan dengan tantangan. Salah satu cerita menarik adalah ketika beliau menemui KH. Baidlowi di Lasem.
Ketika meminta izin untuk berguru, KH. Baidlowi justru mengarahkan Abuya untuk belajar sendiri melalui dzikir dan shalawat yang termaktub dalam kitab.
Hal ini membuat Abuya semakin penasaran, dan setelah menjalani shalat istikharah, akhirnya beliau diizinkan untuk mengamalkan thariqah Asy-Syadziliyah.
Cerita lainnya datang dari pertemuannya dengan KH. Dalhar Watucongol di Magelang. Selama 40 hari, beliau tidak pernah dipanggil atau ditanya oleh Kiai Dalhar.