Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Salafy Madarijul Ulum Pelamunan Tegal, Serang, Banten
- Google Maps/Pondok Pesantren Salafy Madarijul Ulum Pelamunan Tegal
VIVA BANTEN – Profil Pondok Pesantren Salafy Madarijul Ulum Pelamunan Tegal (PPMU) adalah salah satu pondok pesantren tertua di Banten. Berdiri hampir satu abad lalu, pesantren ini masih berdiri kokoh sebagai pusat pendidikan Islam yang menggabungkan kedalaman ilmu salaf dan akhlak mulia.
Didirikan oleh Abuya KH Muhammad Thohir bin KH Muhammad Sayyidi, pesantren ini lahir dari semangat untuk menyebarkan ilmu agama di tengah masyarakat.
Awalnya, Abuya KH Muhammad Thohir membangun pesantren di Kampung Balebatu, Kelurahan Lialang, Serang. Namun, keterbatasan air membuat aktivitas santri terganggu. Sekitar tahun 1925 hingga 1927, beliau memutuskan untuk memindahkan pesantren ke Pelamunan Tegal, Kramatwatu, Kabupaten Serang. Lokasi baru itu lebih strategis dan memiliki sumber air yang cukup.
Pemindahan lokasi tersebut menjadi titik penting dalam sejarah PPMU. Dengan sarana yang memadai, kegiatan belajar mengajar berjalan lancar. Para santri dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk menimba ilmu dari pesantren ini.
Abuya KH Muhammad Thohir: Pondasi Keilmuan yang Kokoh
Abuya KH Muhammad Thohir dikenal sebagai sosok ulama yang menguasai berbagai cabang ilmu agama. Ia ahli dalam bidang nahwu, shorof, mantiq, balaghah, fiqih, hingga tasawuf. Dengan dasar keilmuan yang kuat, beliau membangun sistem pendidikan berbasis kitab kuning dan metode salaf yang ketat.
Ia merupakan murid dari sejumlah ulama besar seperti Syaikh KH Tubagus Abdul Halim, Syaikh Agung Asnawi Caringin, dan Hadratussyaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. Pengaruh dari para gurunya sangat terlihat dalam pola pengajaran di pesantren ini.
Selama 35 tahun memimpin PPMU hingga wafat pada 1960, Abuya KH Muhammad Thohir berhasil membentuk karakter pesantren sebagai lembaga yang menjaga kemurnian ilmu agama. Pesantren menjadi rujukan bagi masyarakat Banten dalam mencari ilmu yang lurus dan mendalam.
Abuya KH Muhammad Lujaini: Melanjutkan Estafet Ilmu dengan Penuh Kasih
Kepemimpinan PPMU kemudian beralih ke tangan putranya, Abuya KH Muhammad Lujaini. Beliau dikenal sebagai ulama rendah hati namun tegas dalam mendidik. Ia menimba ilmu dari tokoh besar seperti Mbah KH Syathory dari Cirebon dan Assayyid ‘Alawy bin ‘Abbas al-Makky dari Makkah.