Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Al‑Fathaniyah Tengkele, Kota Serang, Banten
- Facebook/Pondok Pesantren Al-Fathaniyah
VIVA BANTEN – Profil Pondok Pesantren Al Fathaniyah Tengkele, berdiri sejak 1972, menjadi ikon pendidikan Islam di Serang, Banten. Mengusung sistem klasik dan modern, pesantren ini menghasilkan santri berkarakter, tanggap zaman, dan berkontribusi pada Hari Santri Nasional. Di bawah kepemimpinan generasi penerus, pesantren terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisi.
1. Sejarah dan Pendiri
Didirikan pada 1972 dengan nama awal “Pondok Al‑Ikhlas”, pesantren ini digagas oleh Abuya KH Syarqowi bin Rofiq dari Pegandikan, Pontang dan Nyai Hj Mahdiyah binti KH Rahmatullah dari Samparwadi, Tirtayasa. Awalnya berdiri di seberang lokasi ziarah Tengkele, namun pada 1979 pindah 150 meter ke barat untuk menghindari kebisingan jalan.
Pada 1990-an, nama resmi berubah menjadi Pondok Pesantren Al‑Fathaniyah, sebagai bentuk penghormatan kepada guru besar Abuya KH Fathoni bin Sa’id dari Cigudang, Pandeglang. Nama ini mengandung tabarrukan dan tafa’ulan, bentuk penghormatan spiritual kepada ulama besar tersebut.
2. Kurikulum & Metode Pengajaran
Pesantren ini mempertahankan metode ngaji sorogan—ngaji intensif satu‑satu antara santri dan guru—dalam sistem tradisional. Belakangan, pendekatan ini dikombinasikan dengan pendidikan formal.
Madrasah Tsanawiyah (MTs) didirikan tahun 1997
Madrasah Aliyah (MA) menyusul pada 2000
Madrasah Diniyah Al‑Fathaniyah (MDA) khusus pada pendidikan pesantren salafiyah.
Pendekatan ini dipadukan antara kitab kuning dan kurikulum umum, sehingga lulusan punya keseimbangan antara pengetahuan agama dan keterampilan duniawi.
3. Peran dalam Ranah Pendidikan Nasional
Al‑Fathaniyah tidak hanya mengajarkan ilmu agama melulu, tetapi juga mempersiapkan santri untuk berkontribusi ke masyarakat luas. Kombinasi ilmu agama dan umum membuat mereka tangguh dalam berbagai aspek.
Pada 2014, pesantren ini turut menyusun “Piagam Perjuangan Al Fathaniyah” yang mendukung penetapan Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo, membuktikan posisi strategis pesantren dalam mengokohkan nilai-nilai nasionalis keagamaan, yang kemudian sebagai embrio lahirnya Hari Santri Nasional dan UU Pesantren No. 18 Tahun 2019.
4. Kepemimpinan dan Visi Masa Depan
Kini, kepemimpinan pesantren dijalankan oleh KH Matin Syarkowi, putra pendiri, sebagai ketua yayasan dan pimpinan yang merupakan tokoh Nasional masuk dalam jajaran A'wan PBNU Masa Khidmat 2022-2027 dan Ketua Dewan Pembina Nasional Bintang Sembilan Wali (Biwali). Di bawah pimpinan beliau, Al‑Fathaniyah terus memperluas visi dan daya jangkau.