Cara Peradi Ciptakan Advokat Berkualitas dan Memberi Akses Masyarakat Keadilan
- Istimewa.
VivaBanten – Peradi menggelar Ujian Profesi Advokat (UPA) secara nasional, yang diikuti oleh 3.643 calon advokat Indonesia.
Ketua Umum Peradi, Oto Hasibuan mengatakan bahwa, UPA ke 32 ini, digelar secara serentak diseluruh Indonesia.
Peradi menyelenggarakan UPA sebanyak dua kali dalam setahun. Total peserta terbanyak masih didominasi Jakarta, kali ini saja diikuti sebanyak 1.068 peserta.
"Jumlah pesertanya adalah 3.643 orang. Hari ini dilaksanakan di 40 kota di seluruh Indonesia pada jam yang bersamaan," ujar Prof Otto Hasibuan, Ketum Peradi, saat meninjau pelaksanaan UPA di Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Saat pertama kali UPA digelar Peradi, tingkat kelulusan hanya 8 - 9 persen dari total peserta. Salah satu penyebabnya, mereka beranggapan bisa bisa melakukan suap.
Karena banyak yang gagal dan tidak bisa melakukan KKN demi kelulusan, banyak peserta berdemonstrasi hingga menggulingkan meja Ketum Peradi, agar diluluskan UPA supaya bisa menjadi advokat.
"Kami melakukan ujian dengan zero KKN, dengan cara yang ketat dan menjaga mutu," ungkapnya.
Arsin Kades Kohod Bersama Pengacaranya di PN Serang.
- Yandi/BantenViva
Meskipun penuh risiko, lanjut Otto, Peradi tetap menerapkan standar yang ketat dan zero KKN untuk menjaga mutu. Akhirnya para calon advokat meningkatkan kemampuan penguasaan hukumnya untuk bisa lulus UPA.
"Akhirnya mereka yang harusnya berubah dan mulai belajar. Akhirnya mereka mulai pinter dan menjadi seorang advokat yang baik. Jadi itulah yang kita rasakan hari ini," katanya.
Bersama pengurus DPN Peradi, Oto menjelaskan salah satu tantangan menjadi pengacara yakni memberi bantuan hukum bagi masyarakat tidak mampu dan keadilan yang merata.
"Bagaimana masyarakat untuk bisa dibela, mendapatkan hak-hak, dan keadilan pada dia, kalau diberi masalah hukum di polisi umpamanya, maka salah satu media adalah advokat," ujarnya.
Ia berpesan, advokat harus pintar dan jujur serta menjaga integritas dan membuang jauh-jauh ingin segera kaya raya dalam waktu yang singkat atau sekejap.
Selain itu, Otto juga berpesan agar advokat terus meningkatkan kemampuannya dan menjawab berbagai tantangan di bidang hukum yang juga terbilang sangat cepet seiring kian majunya teknologi.