Syahriyahan MWCNU Cipocok Jaya Dipadati Ratusan Jamaah, NU Tegaskan Benteng Akidah dan Penjaga NKRI
- Taufik Hidayat/VIVA Banten
VIVA BANTEN – Ratusan warga memadati Pondok Pesantren Al-Ulya Al-Mubarok di Lingkungan Jeranak, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Jumat (10/7/2026). Mereka menghadiri Syahriyahan Pengajian Bulanan yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Cipocok Jaya.
Kegiatan rutin tersebut kembali menjadi wadah yang mempertemukan ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat silaturrahim, memperdalam ilmu agama, sekaligus memperkokoh semangat kebangsaan.
Pada kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki dua prinsip utama yang harus dijaga oleh seluruh warga nahdliyin, yakni mempertahankan akidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut KH Saifun Nawasi, identitas Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah merupakan ciri khas NU yang harus terus dipertahankan di tengah munculnya berbagai kelompok yang mengaku berpegang pada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, tetapi menolak tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama.
"Di NU ada Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah. Saat ini banyak kelompok yang mengaku Ahlussunnah Wal Jamaah, tetapi melarang tahlilan, marhaban, hingga peringatan Maulid Nabi. Karena itu identitas An-Nahdliyah harus terus dipertahankan," ujar KH Saifun Nawasi.
Ia menambahkan, NU tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga memiliki peran penting sebagai benteng persatuan bangsa.
"NU harus menjadi garda terdepan dan pagar yang kuat dalam menjaga bangsa serta negara Republik Indonesia," tegasnya.
Dalam tausiyahnya, KH Saifun Nawasi juga mengajak masyarakat untuk tetap melestarikan amaliah yang telah diwariskan para ulama. Tradisi seperti tahlilan, marhaban, ziarah kubur, hingga peringatan Maulid Nabi dinilai sebagai bagian dari kekayaan keislaman yang perlu dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Syahriyahan Pengajian Bulanan MWCNU Kecamatan Cipocok Jaya
- Taufik Hidayat/VIVA Banten
Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh membuat umat Islam menjauh dari ajaran para ulama dan kiai. Sebab, para ulama merupakan pewaris para nabi yang menjadi rujukan utama dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
"Kita tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, para sahabat maupun imam mazhab. Yang kita temui saat ini adalah para ulama dan kiai. Karena itu, mereka harus menjadi rujukan dalam menjalankan ajaran agama," katanya.