Dosen Mengaku Di-PHK Usai Tagih Gaji Berbulan-bulan di UNSB, Singgung Minimnya Komunikasi Pimpinan Kampus

Universitas Syeikh Nawawi Banten
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

 

img_title JD ID Bangkrut, Umumkan Penutupan Layanan pada Bulan Maret Mendatang

Rohmadin menilai persoalan utama bukan hanya keterlambatan pembayaran honor, tetapi juga minimnya komunikasi antara pimpinan kampus dan para dosen.

 

img_title Bukan Legalisasi Miras, KH Matin Syarkowi Sebut Revisi Perda PUK untuk Tertibkan Hiburan Liar

Ia mengaku telah beberapa kali mengusulkan agar rektor menggelar pertemuan, termasuk melalui aplikasi Zoom, sehingga seluruh dosen bisa memperoleh penjelasan secara langsung.

 

img_title Ekonomi Banten Melesat 5,49 Persen, Masuk Lima Besar Nasional, BI Ungkap UMKM Jadi Mesin Utama Pertumbuhan

"Apa susahnya nge-Zoom, diskusi, ngobrol langsung? Kita ini lagi ada masalah," katanya.

 

Menurut Rohmadin, usulan tersebut tidak pernah mendapat respons.

 

Ia juga menyebut persoalan gaji akhirnya ramai diperbincangkan setelah muncul unggahan di platform X yang menyinggung tunggakan honor dosen. Isu tersebut kemudian menjadi pembahasan di lingkungan internal kampus.

 

Gaji Dibayar, Sehari Kemudian Terima Surat PHK

 

Di tengah polemik tersebut, Rohmadin mengaku sempat diminta mengirimkan absensi mengajar oleh salah seorang staf kampus.

 

Ia mengira permintaan itu berkaitan dengan proses pencairan honor yang selama ini tertunda.

 

Tidak lama kemudian, seluruh tunggakan gajinya disebut telah dibayarkan.

 

"Akhirnya semua gaji gue dibayarin. Gue senang, Alhamdulillah akhirnya dibayar juga," ujarnya.

 

Namun, sehari setelah pembayaran diterima, ia mengaku justru memperoleh surat pemberhentian sebagai dosen tetap.

 

"Enggak tahunya selang satu hari keluar surat PHK. Gue belum sempat pamitan di grup dosen, langsung dikeluarin," kata Rohmadin.

 

Ia mengaku sempat berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi dengan pihak kampus. Bahkan, dirinya memilih menunda menyampaikan persoalan itu ke media sosial.

 

Namun, karena tidak ada komunikasi lanjutan dari rektor, Rohmadin akhirnya memutuskan membuka persoalan tersebut kepada publik.

 

Nilai Banyak Dosen Takut Bersuara

 

Rohmadin mengaku dirinya bukan satu-satunya dosen yang mengalami persoalan tersebut.

 

Menurutnya, masih ada sejumlah dosen lain yang memilih diam karena khawatir terhadap dampak yang mungkin diterima apabila menyampaikan keluhan.

 

"Sebenarnya banyak dosen yang sudah muak dengan perihal ini, tapi takut untuk bersuara. Kali ini gue mau bersuara," katanya.

 

Ia juga menegaskan dirinya siap mempertanggungjawabkan setiap pernyataan yang disampaikan.

 

"Kalau memang gue salah, yuk kita berargumen. Gue siap bawa data," ujarnya.

 

Tanggapan Rektor UNSB

 

Di sisi lain, Rektor Universitas Syeikh Nawawi Banten, Hj Siti Haniatunnisa, memberikan tanggapan singkat melalui pesan tertulis.

Halaman Selanjutnya
img_title