UIN Banten Tembus Panggung Dunia, Rektor Prof Muhammad Ishom Gandeng 9 Kampus Asia, Perkuat Jejaring Internasional
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali menorehkan capaian penting di tingkat internasional. Kampus Islam negeri tersebut resmi memperluas jejaring global melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI) dengan sembilan perguruan tinggi dari Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Kesepakatan strategis itu dilakukan dalam Pertemuan Tahunan ke-15 dan Konferensi Internasional Asian Islamic Universities Association (AIUA) 2026 yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 24–25 Juni 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten memperkuat kolaborasi internasional sekaligus meningkatkan daya saing perguruan tinggi Islam di tengah persaingan pendidikan tinggi global.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Muhammad Ishom, hadir langsung dalam forum tersebut bersama Kepala International Office (IO), Dr. Siti Solehah. Keduanya mengikuti berbagai agenda yang mempertemukan puluhan perguruan tinggi Islam dari berbagai negara di Asia.
AIUA merupakan organisasi yang mewadahi perguruan tinggi Islam di kawasan Asia. Forum ini berfungsi sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperluas kerja sama akademik, serta mendorong lahirnya berbagai program lintas negara.
Keanggotaan AIUA mencakup universitas dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina hingga Maladewa. Melalui pertemuan tahunan tersebut, setiap perguruan tinggi anggota memiliki kesempatan memperluas kemitraan dan membangun kolaborasi yang berkelanjutan.
Tahun ini, AIUA mengangkat tema "Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development." Tema tersebut menekankan pentingnya transformasi pendidikan tinggi Islam agar mampu berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia, memperkuat ketahanan masyarakat, serta mendorong pembangunan yang inklusif.
Konferensi juga menghadirkan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, bersama Ace Hasan Syadzily sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Jusuf Kalla mengulas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi perguruan tinggi Islam di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
Selain itu, sejumlah akademisi dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam turut berbagi gagasan mengenai penguatan kualitas pendidikan tinggi Islam agar mampu menjawab kebutuhan zaman dan menghasilkan lulusan yang kompetitif di tingkat internasional.