Ulama Penggerak, Ini Rekam Jejak KH Ahmad Aminudin Ibrahim di Balik Sejarah Lahirnya Provinsi Banten

Provinsi Banten
Sumber :
  • Taufik Hidayat/Viva Banten

VIVA BANTEN Sejarah lahirnya Provinsi Banten tidak bisa dilepaskan dari peran ulama dan tokoh masyarakat. Salah satu sosok penting dalam perjalanan itu adalah KH Ahmad Aminudin Ibrahim. Namanya tercatat sebagai ulama yang berani menyuarakan aspirasi Banten pada momen krusial menjelang terbentuknya provinsi baru di ujung barat Pulau Jawa tersebut.

img_title Hari Mangrove Sedunia: Harapan dan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Provinsi Banten resmi berdiri pada tanggal 4 bulan Oktober tahun 2000. Artinya, daerah yang dikenal dengan julukan Tanah Jawara ini telah menapaki usia seperempat abad. Namun, pencapaian itu bukan hasil perjuangan singkat. Prosesnya berlangsung panjang, melewati berbagai fase politik dan sosial sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Sebelum menjadi provinsi, Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Status tersebut bertahan selama puluhan tahun. Di sisi lain, aspirasi untuk membentuk pemerintahan otonom sudah tumbuh kuat di tengah masyarakat Banten. Tokoh adat, pemuda, dan ulama menilai Banten memiliki karakter sejarah dan budaya yang berbeda dari wilayah Jawa Barat lainnya.

img_title Raih Skor Tertinggi, Kabupaten Tangerang Pertahankan Gelar Juara Umum MTQ Provinsi Banten

Pada dekade 1950-an, tuntutan pembentukan Provinsi Banten mulai disuarakan secara terbuka. Tokoh muda Uwes Qorny menjadi salah satu pelopor. Bersama rekan-rekannya, ia mendorong pemerintah pusat agar memberi status provinsi kepada Banten. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

 

img_title Pendaftaran MTQ Imam Masjid se-Banten Diperpanjang, Kesempatan Terakhir Raih Prestasi di Ajang Bergengsi

Foto kunjungan Presiden Habibi, Tahun 1998 di Pandeglang

Photo :
  • Dok. Pondok Pesantren Darul Iman, Kadu Pandak, Pandeglang

Gelombang perjuangan kembali muncul pada 1963. Sochari Chatib dan Ayip Zuchri tampil memimpin aspirasi, didukung Gogo Sandjadiredja serta sejumlah tokoh pemuda Banten. Mereka menempuh jalur politik dan administratif untuk memisahkan Banten dari Jawa Barat. Meski mendapat perhatian, perjuangan ini kembali terhenti di tengah jalan.

Perubahan besar terjadi pada era reformasi 1998. Situasi politik nasional yang lebih terbuka memberi ruang bagi daerah untuk menyampaikan tuntutan. Tokoh-tokoh Banten seperti Uwes Qorny, Mochtar Mandala, KH Embay Mulya Syarief, Soerjadi Soedirja, Hariri Hady, dan lainnya kembali menguatkan desakan pembentukan Provinsi Banten.

Sehari setelah Presiden Soeharto lengser, tepatnya 20 Mei 1998, ribuan warga Banten mendatangi Gedung DPR/MPR di Senayan. Aksi tersebut dipimpin KH Embay Mulya Syarief bersama tokoh-tokoh muda. Mereka menyatakan dukungan kepada B.J. Habibie yang saat itu menjabat Presiden Republik Indonesia.

Halaman Selanjutnya
img_title