Belajar dari Bali, UIN Banten Tancap Gas Perkuat Moderasi Beragama dan Eko-Teologi Nasional
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten memperkuat komitmennya dalam mengimplementasikan Moderasi Beragama dan eko-teologi, dua agenda strategis Kementerian Agama. Langkah ini diwujudkan dengan memperluas kolaborasi lintas satuan kerja melalui sharing session bersama Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar, Bali. Pulau Dewata dipilih karena dinilai berhasil menjaga harmoni sosial dan mencatat indeks kerukunan umat beragama tertinggi di Indonesia.
Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom, menegaskan Bali layak menjadi rujukan nasional dalam membangun praktik kerukunan antarumat beragama.
Ia menyebut capaian tersebut tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat yang menghargai perbedaan dan menjaga keseimbangan dengan alam.
“Bali menempati peringkat pertama dalam indeks kerukunan umat beragama. Bahkan, sebelum istilah eko teologi menjadi kebijakan nasional, masyarakat Bali telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Moderasi beragama di sini menyatu dengan penghormatan terhadap alam,” kata Prof Ishom, Sabtu, 13 Desember 2025.
Menurutnya, pengalaman Bali memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan tinggi keagamaan Islam. Nilai moderasi tidak cukup dipahami sebagai konsep akademik, tetapi harus terwujud dalam sikap, kebijakan, dan praktik sosial.
Sementara itu, Wakil Rektor II UIN Banten, Dr Ali Muhtarom, menggambarkan Bali sebagai miniatur Indonesia. Keragaman agama, budaya, dan tradisi hidup berdampingan tanpa gesekan berarti. Ia menilai moderasi beragama di Bali telah menjadi ekosistem yang dijaga bersama oleh masyarakat.
“Moderasi beragama harus lahir dari kesadaran, pikiran, dan perilaku. Di Bali, nilai itu tidak dipaksakan. Ia tumbuh alami dan menjadi napas kehidupan,” ujar Ali.
Ia mencontohkan keberadaan Makam Keramat Raden Ratu Ayu Siti Khodijah, putri Kerajaan Pemecutan. Makam tersebut berada di lingkungan mayoritas Hindu, namun tetap diziarahi umat Islam. Menurutnya, fakta ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi tumbuhnya saling hormat.
Kendati demikian, Wakil Rektor III UIN Banten, Dr Dedi Sunardi, menambahkan bahwa praktik keagamaan di Bali menunjukkan hubungan harmonis antara agama dan budaya. Tradisi lokal tidak diposisikan sebagai ancaman, tetapi justru memperkaya ekspresi keberagamaan.