Resmi Dilantik, Pergunu Kabupaten Serang Serukan Transformasi Pendidikan untuk Indonesia Maju dan Berkeadilan
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, menyerukan gerakan besar untuk memperkuat pendidikan nasional. Pesan itu disampaikan dalam pelantikan Pengurus Pergunu Kabupaten Serang Masa Khidmat 2024-2029 di Pondok Pesantren BAI Mahdi Sholeh Ma'mun Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Rabu, 10 Desember 2025. Ia menekankan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni, tetapi awal kerja besar bagi Pergunu.
Dalam sambutannya, Kiai Asep meminta para pengurus bergerak cepat dan konsisten. Ia mendorong agar Pergunu fokus meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dan pesantren yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama.
Ia menilai pendidikan NU memiliki peran strategis dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, berkeadilan, dan sejahtera. Baginya, pendidikan menjadi kunci untuk mengantar Indonesia menuju negara maju.
Kiai Asep memaparkan empat komponen penting yang harus hadir untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Komponen pertama adalah keberadaan ulama dan ilmuwan yang menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan. Ia menegaskan bahwa negara akan kuat apabila para pemimpin menjadikan ulama dan ilmuwan sebagai referensi.
“Negara akan kuat ketika para ulama dan ilmuwannya menjadi referensi bagi birokrat,” ujarnya.
Komponen kedua adalah birokrat yang adil. Mereka, kata Kiai Asep, harus bekerja dengan niat membangun kesejahteraan bersama tanpa diskriminasi.
Ia menilai birokrat yang berintegritas akan menggerakkan sistem pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Komponen ketiga adalah pengusaha besar atau konglomerat yang memiliki kepedulian sosial. Ia menekankan bahwa negara memerlukan pengusaha yang tidak menjauh dari masyarakat, melainkan membantu pekerjanya keluar dari lingkaran kemiskinan.
Kiai Asep menyinggung kondisi ketika buruh tidak memiliki peluang untuk berkembang karena struktur ekonomi yang tidak mendukung. Menurutnya, hal itu bertentangan dengan cita-cita Indonesia maju.
“Kalau buruh dibuat tetap menjadi buruh dan anak-anaknya tidak punya kesempatan naik kelas, itu bertentangan dengan cita-cita Indonesia maju,” katanya.
Komponen keempat yang ia soroti adalah kondisi sosial yang kondusif. Ia menyebut bahwa demonstrasi yang terus terjadi menunjukkan bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya tercapai.
Menurutnya, demo sering dilakukan oleh buruh dan masyarakat kecil yang merasa kurang diperhatikan. Jika ulama, birokrat, dan pengusaha memiliki kepedulian yang seimbang, maka situasi sosial akan stabil dan produktif.