Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah: Jejak Banten dalam Lahirnya Hari Santri Nasional
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Hari Santri Nasional yang kini dirayakan setiap 22 Oktober ternyata menyimpan jejak sejarah penting dari Banten. Sebuah pesantren di Kota Serang, yakni Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, menjadi titik awal lahirnya gagasan besar penghormatan bagi para santri dan ulama Indonesia.
A’wan PBNU Masa Khidmat 2022-2027, KH Matin Syarkowi, mengungkap fakta tersebut dalam acara peringatan Hari Santri Nasional di Majelis Pusat Asy-Syarqowi, Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Tengkele, Kota Serang, Selasa, 22 Oktober 2024 lalu. Ia menyebut, ide peringatan Hari Santri bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dari kesepakatan penting yang ditandatangani di pesantren itu satu dekade lalu.
Menurut KH Matin, pada tahun 2014, saat Joko Widodo masih menjadi calon presiden, ia mengutus Jusuf Kalla (JK) untuk menemui para kiai di Al-Fathaniyah. Tujuannya jelas: meminta restu dan dukungan kalangan pesantren. Namun, dukungan itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Para kiai mengajukan syarat agar pesantren tidak hanya dijadikan alat politik, melainkan benar-benar menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.
Dari pertemuan bersejarah itulah lahir Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah—sebuah kesepakatan moral dan politik antara calon presiden Joko Widodo dan para ulama Banten. Piagam itu ditandatangani oleh para kiai sepuh dari berbagai daerah, seperti Pelamunan, Pandeglang, Tangerang, dan Serang.
KH Matin menyebut, piagam itu menjadi kompas moral bagi pemerintah dalam menempatkan pesantren sebagai garda terdepan pembangunan bangsa.
“Pesantren bukan hanya pendukung negara, tapi pemiliknya,” tegasnya, saat dimintai keterangan Minggu, 19 Oktober 2025.
Ia menambahkan, banyak pejuang kemerdekaan berasal dari dunia pesantren, meski para kiai dan santri tidak pernah menuntut pengakuan atas jasa mereka.
Melalui piagam tersebut, Jokowi menyatakan kesadarannya bahwa pesantren memiliki peran vital dalam sejarah Indonesia. Dalam teks asli Piagam Perjuangan Al Fathaniyah yang ditulis tangan oleh Joko Widodo pada 5 Juli 2014, ia berjanji untuk memperjuangkan eksistensi pesantren, terutama pesantren salafiyah yang menjaga tradisi keilmuan klasik Islam.
Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah
- Dok. PP Al-Fathaniyah
TEKS LENGKAP PIAGAM PERJUANGAN AL-FATHANIYAH
Saya, Joko Widodo, Calon Presiden Rakyat Indonesia menyadari bahwa pesantren memiliki jasa dan sejarah panjang dalam perjalanan bangsa. Para kyai dan santri adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk pesantren Salafiyah di seluruh Indonesia.