Strategi UMKM untuk Tingkatkan Penjualan Melalui Pemasaran Berbasis FOMO
- Sherly/viva
VIVA Banten - Strategi pemasaran berbasis Fear of Missing Out (FOMO) menjadi sorotan dalam Kelas UMKM ke-V Hari Ritel Nasional (HRN) 2025, yang digelar Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) secara daring di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang.
Di mana, FOMO dinilai mampu menciptakan urgensi pembelian sekaligus meningkatkan penjualan UKM di era digital.
Sophan Supandi, M.M., CPM(A), Managing Director Radiv Asian Management Advisory sekaligus Director Asosiasi Marketing Indonesia (IMA), menekankan bahwa keterbatasan modal dan akses promosi tidak boleh menjadi penghalang bagi UMKM.
"Strategi WOM dan FOMO bukan hanya teknik sekali pakai, tapi sebuah siklus yang terus berputar. Kuncinya ada pada ketajaman membaca tren, memahami perubahan perilaku pelanggan, dan mengeksekusi promosi pada waktu yang tepat," katanya.
Menurutnya, Word of Mouth (WOM) dan FOMO merupakan kombinasi strategi pemasaran low cost high impact.
WOM membangun kepercayaan jangka panjang melalui rekomendasi pelanggan, sementara FOMO mendorong keputusan pembelian lebih cepat melalui penawaran eksklusif, terbatas, dan tepat waktu.
"Kepuasan pelanggan harus menjadi fondasi utama. Pelanggan yang puas akan loyal, menjadi advokat merek, dan menyebarkan rekomendasi secara sukarela, memperluas jangkauan UKM tanpa biaya besar," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia HRN 2025, Hans Harischandra Tanuraharjo, menyatakan bahwa HRN bukan hanya ajang perayaan, tetapi juga wadah edukasi.
"Melalui kelas UMKM, kami ingin memberikan bekal praktis dan inspiratif agar pelaku UMKM semakin siap menghadapi tantangan sekaligus peluang di era digital," ungkapnya.