Mahasiswa UIN SMH Banten Ledakkan Revolusi Digital di Desa Ciruas, UMKM Dorong Bisa Melek QRIS
- Taufik Hidayat/Viva Banten
VIVA BANTEN – Desa Ciruas, Kabupaten Serang, mulai bergerak menuju era digital berkat inisiatif mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Tematik, Kelompok 6 QRIS hadir langsung di tengah masyarakat pada Kamis, 17 Juli 2025, membawa misi besar menjadikan UMKM lokal lebih tangguh lewat edukasi keuangan digital.
Pelatihan yang digelar di balai desa ini menjadi magnet bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta warga sekitar. Fokus utama kegiatan adalah pengenalan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dan strategi pengembangan bisnis berbasis teknologi.
Ketua Kelompok Kukerta UIN SMH Banten, Muhammad Iqbal, membuka pelatihan dengan menegaskan manfaat QRIS bagi UMKM. Menurutnya, QRIS bukan sekadar alat bayar, tapi solusi pembayaran modern yang memudahkan usaha berkembang.
"QRIS bukan cuma alat bayar. Ini adalah jembatan agar UMKM bisa naik kelas. Transaksi jadi lebih praktis, transparan, dan terpercaya," ujar Iqbal, Sabtu, 26 Juli 2025.
Melalui QRIS, pelaku usaha bisa meminimalkan risiko kehilangan uang tunai, mempercepat proses transaksi, dan meningkatkan kenyamanan pelanggan. Edukasi ini juga dirancang agar UMKM mampu bersaing di tengah arus digitalisasi.
Sesi kedua pelatihan diisi oleh Muhammad Jamal. Ia mengupas tuntas berbagai tantangan yang kerap menghambat pertumbuhan UMKM di desa, mulai dari minimnya akses permodalan hingga lemahnya strategi pemasaran.
Menurut Jamal, banyak UMKM di desa berjalan tanpa arah dan strategi. Untuk mengubah kondisi tersebut, ia memperkenalkan lima jurus jitu agar pelaku usaha bisa langsung mengimplementasikannya:
1. Maksimalkan potensi sumber daya lokal.
2. Jalin kemitraan dengan lembaga keuangan resmi.
3. Ciptakan merek yang kuat dan mudah dikenal.
4. Manfaatkan platform digital seperti marketplace dan media sosial.
5. Tingkatkan pelayanan agar pelanggan tetap loyal.
“UMKM punya potensi besar, tapi seringkali mereka jalan sendiri tanpa arah yang jelas. Kita perlu bantu mereka punya strategi yang konkret,” tegas Jamal.
Antusiasme warga cukup tinggi. Dalam sesi tanya jawab, setidaknya lima orang aktif mengajukan pertanyaan seputar penerapan QRIS dan pengembangan bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menerima perubahan dan terbuka terhadap inovasi digital.