Menag RI di AS, Guru Besar UIN Banten Prof Ishom: Diplomasi Toleransi hingga Dorong Ekspansi Produk Halal Indonesia
- Kemenag RI
VIVA BANTEN – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Nasaruddin Umar, memulai lawatan strategis ke Amerika Serikat pada 14 Mei 2025. Kunjungan ini tidak sekadar seremonial. Di baliknya, tersimpan misi besar: membawa wajah damai Indonesia ke panggung dunia.
Prof. Nasaruddin dijadwalkan menerima gelar kehormatan Honoris Causa dari Hartford Seminary di New York. Di sana, ia juga akan berdialog dengan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengenai isu toleransi dan keberagaman.
Tidak berhenti di situ, Menag juga membawa misi memperkuat ekosistem halal di negeri Paman Sam. Ia menggagas kerja sama industri halal dan pembinaan perkawinan diaspora WNI agar selaras dengan Undang-Undang Perkawinan Indonesia.
Semua agenda itu dijalankan sebelum dirinya bertolak ke Arab Saudi untuk memimpin langsung penyelenggaraan ibadah haji 1446 H.
Langkah Strategis di Tengah Gejolak Global
Guru Besar UIN Banten, Prof Muhammad Ishom
- Viva.co.id/Taufik
Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menyebut lawatan Menag sebagai strategi diplomasi lunak atau soft diplomacy.
Menurutnya, Indonesia punya posisi unik dalam percaturan global. Sebagai negara multietnik dan multikeyakinan, Indonesia mampu menawarkan solusi peradaban melalui toleransi.
"Indonesia laik menjadi contoh global. Kita punya kekuatan geo-intelektual dan geo-spiritual yang bisa jadi penyejuk di tengah dunia yang memanas," ujar Prof. Ishom.
Ia menilai bahwa langkah Menag juga bisa menjadi respon cerdas atas meningkatnya tensi geopolitik dunia. Diplomasi keagamaan, katanya, adalah jembatan perdamaian yang relevan saat ini.
Industri Halal: Pasar Besar yang Sedang Tumbuh
Salah satu agenda penting kunjungan ini adalah membuka jalan bagi ekspansi produk halal Indonesia ke pasar Amerika. Sebuah peluang emas, mengingat industri halal di AS tengah berkembang pesat.
Saat ini, populasi Muslim di Amerika telah menembus 3,5 juta jiwa. Kebutuhan terhadap makanan halal pun melonjak. Bahkan konsumen non-Muslim mulai melirik produk halal sebagai pilihan sehat dan etis.
"Halal kini bukan hanya urusan agama, tapi juga gaya hidup. Banyak orang melihat sertifikasi halal sebagai jaminan mutu dan keamanan pangan," jelas Prof. Ishom.
Tren ini terlihat nyata di kota-kota besar seperti New York, Chicago, dan Los Angeles. Jaringan restoran cepat saji dan waralaba internasional telah memasukkan menu halal demi menjangkau pasar yang lebih luas.